Membalut Perbedaan Dengan Mesra Dalam Cinta

Mesra Dalam Cinta karya Ari Wuryanto (Cat Acrylic di atas Kanvas / 80x120cm / Tahun 2016)

Meski saya termasuk antisosial, bukan lantas saya tidak memiliki teman sama sekali. Pribadi introvert membuat saya memilih dan memilah lingkungan pertemanan dengan teliti. Bukan bermaksud diskriminatif, hanya saja secara alami insting sosial saya yang menentukan mana teman yang cocok dan mana yang tidak cocok. Tanpa disadari saya membuat lingkaran pertemanan yang sangat ekseklusif.

Saya tidak memusuhi mereka yang tidak cocok dengan saya. Di dunia nyata, saya masih menganggap mereka teman. Sedangkan di dunia maya ada beberapa (banyak malahan) yang tidak saya follow bahkan berakhir unfollow dan block pun ada. Mau bagaimana lagi, kalau kita tidak suka dengan konten yang dibagikan teman kita sendiri di sosial media kan ya halal-halal saja kalau di-unfollow atau unfriend. Bukan berarti ngajak ribut, toh di dunia nyata kita tetap berteman.

Di samping itu, teman yang menurut saya cocok adalah mereka yang kalau ngobrol bisa nyambung. Meski berbeda-beda karakter dan latar belakang, tapi ada satu benang merah yang bisa menyambungkan saya dan teman saya itu, yaitu kesamaan referensi. Melalui referensi yang sama itulah, bahan perbincangan akan terasa menyengangkan dan semakin mengakrabkan. Hingga kemudian semakin bertambah umur kita, semakin banyak teman kita, maka semakin terseleksi mana teman yang benar-benar selalu bersama. Kehadiran teman-teman yang selalu bersama ini secara alami membentuk semacam regu atau genk. Biasanya mereka menamai regu itu untuk menguatkan ekseklusifitas pertemanan, seperti Genk Srigala, Persaudarian Lipstik Tebal, maupun BBY (Bang Bayik Club). Eratnya pertemanan semacam itulah yang mengilhami Ari Wuryanto dalam menghasilkan karya lukis berjudul Mesra Dalam Cinta.
Lukisan Mesra Dalam Cinta merupakan salah satu karya dalam acara Kompetisi Karya Mahasiswa FSRD ISI Surakarta yang diadakan di Balai Soedjatmoko Solo pada bulan Agustus 2016.

Dalam lukisan Mesra Dalam Cinta, kita melihat empat figur imajiner yang divisualkan secara apik oleh Wuryanto. Keempat figur ini terikat dengan benang-benang yang melilit di seluruh tubuh mereka. Bahkan sudah seperti bagian dari tubuh itu sendiri. Satu sama lain saling mengikat seolah hendak menyatukan keempat tubuh mereka.

Dokumen pribadi
Figur imajiner dalam lukisan ini bisa kita telisik lebih jauh. Sosok paling kiri digambarkan memiliki wajah berupa bongkahan mesin atau komponen mekanik. Hal-hal yang berhubungan dengan mesin seringkali menyimbolkan kemajuan jaman. Kita lihat bagaimana revolusi industri di Inggris telah merubah tatanan kerja di masyarakat yang semula ditangani secara manual lalu diambil alih oleh tenaga-tenaga mesin. Temuan James Watt, Richard Arkwright hingga Henry Cort pada masa itu membuka gerbang peradaban manusia menuju masa depan yang berteknologi. Sejak saat itu mesin (teknologi) dipercaya sebagai penghubung antara manusia, peradaban dan masa depan. Sehingga orang-orang yang menguasai ilmu teknologi adalah orang yang memiliki kesempatan membawa peradaban manusia ke masa depan. Untuk menguasai teknologi ini tidak lah mudah. Tidak serta merta semua orang bisa. Perlu poses yang panjang dan berat dalam mempelajarinya. Maka dari itu, masyarakat kita melabeli orang-orang ini dengan istilah pintar, cerdas dan jenius. Simpulan yang bisa kita ambil bahwa simbol mesin pada wajah figur imajiner yang pertama menggambarkan orang yang pintar atau berilmu.

Figur imajiner kedua adalah wajah tanpa rupa. Ketanparupaan ini divisualkan dengan warna hitam yang dibuat seolah ada ruang kosong di sana. Ruang kosong yang digambarkan membentuk seperti mulut gua atau lorong yang dalam. Simbol ruang kosong dapat berarti kehampaan, kesendirian atau keterasingan. Namun jika mengambil oposisi biner dari figur imajiner yang pertama (si pintar), maka figur kedua ini lebih tepat menggambarkan sosok orang yang bodoh (pikiran yang kosong).

Dokumen pribadi
Figur imajiner berikutnya adalah sosok wajah yang menggambarkan bunga dan langit cerah. Bunga di sini menyiratkan simbol kehidupan. Dan langit konotasi dari impian, yaitu tempat yang ingin dituju namun sulit diraih. Kehidupan dan impian berjalan seperti Yin dan Yang. Keduanya harus selaras untuk bisa mendapatkan makna hidup yang menyenangkan. Apa artinya kehidupan tanpa impian? Apa artinya impian jika tidak hidup, bukan? Dalam figur imajiner tersebut kita dapat melihat beberapa tangkai bunga menjulang ke atas seolah ingin meroket menuju langit. Sebuah simbol yang tepat untuk menggambarkan pribadi yang enerjik, ambisius dan riang (ceria) yang terwakili oleh warna-warna cerah.

Figur imajiner terakhir adalah yang paling menarik menurut saya. Dalam figur tersebut kita diajak Wuryanto untuk melihat kehidupan di bawah laut. Meski terdapat banyak jenis spesies di bawah laut, namun keputusan untuk memasukkan karakter paus adalah pilihan yang cerdas. Saya pribadi melihat paus hanya melalui media film. Di dalam film, paus dicitrakan sebagai binatang yang besar, perkasa dan bergerak sangat lambat (kecuali paus versi Bikini Buttom). Biasanya ketika scene yang menunjukkan alam bawah laut lengkap dengan pausnya, suasana menjadi tenang dan misterius. Seolah ada suatu kekuatan besar di bawah laut yang tidak bisa ditakhlukkan oleh manusia. Maka dari itu, figur imajiner keempat adalah simbol dari manusia yang relijius.

Keempat figur imajiner tersebut merupakan latar belakang manusia yang berbeda-beda. Ada si Pintar, si Bodoh, si Enerjik dan si Relijius. Meski dari latar belakang dan karakteristik yang berbeda, namun mereka senantiasa menjalin hubungan pertemanan yang erat. Begitulah fenomena sosial yang ditangkap Wuryanto dalam kehidupan manusia. Kita pasti menemui atau bahkan menjadi bagian dari suatu kelompok kecil yang menjadikan pertemanan sebagai penguat sebuah hubungan.

Menyingkirkan setiap perbedaan dan fokus pada persamaan akan membawa kita pada jalinan pertemanan yang sehat. Bukankah setiap perselisihan yang terjadi diawali oleh sebuah perbedaan? Entah perbedaan pendapat, perbedaan budaya maupun perbedaan agama. Coba lihat bagaimana Soviet hancur ketika setiap kelompok masyarakat mulai dibagi dalam suku-suku. Seorang antropolog yang meneliti kelompok masyarakat di Soviet telah memberi label beberapa suku, seperti suku Kirgiz, suku Uzbek, suku Tajik, suku Afghan dan lain-lain. Mereka dikotakkan dalam beragam perbedaan mulai dari bentuk fisik, budaya dan keyakinan. Semakin fokus pada perbedaan akhirnya membuat masing-masing suku membangun negaranya sendiri. Kita mengenal dengan Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan dan negara stan-stan lainnya. Meski bertetangga, kehidupan tiap negara tersebut kontras sekali. Ada yang memiliki fasilitas perkotaan yang bagus, ada yang miskin, ada yang terisolir dari dunia luar, bahkan ada yang masih dalam situasi perang.

Setiap hari kita selalu dikelilingi oleh perbedaan. Bahkan dengan kekasih yang mengaku cinta sehidup semati pun pada akhirnya berdebat saat menentukan mau pakai kuah mie instan dari air bekas rebusan atau masak air baru. Tidak bijak jika kita menghendaki segela sesuatu harus sesuai dengan apa yang kita tahu dan kita mau. Karena modal dari kehiduapan bersosial adalah memaklumi perbedaan, bukan memaksa perbedaan menjadi sama.

"Ealah.. Cah antisosial kok sok-sokan ngomongin kehidupan bersosial. Hahahaha."

Saya kira cukup sekian review karya lukis dari Ari Wuryanto. Meski saya tidak bisa melukis, tapi saya selalu kagum dengan imajinasi dan ketekunan para pelukis. Saya selalu tertarik dengan kisah yang tertuang di atas kanvas. Terutama lukisan surealis yang seolah mengajak saya berjalan-jalan ke alam lain, jauh dari dunia eksak yang gini-gini aja. Terima kasih kepada para pembaca yang telah menyimak ulasan sederhana ini. Semoga berkenan. Sampai jumpa di tulisan saya yang lain. Salam.

Menarik Diri Dan Memaafkan

Tidak butuh waktu lama bagi seseorang untuk membenci sesuatu. Entah peristiwa tertentu, situasi tertentu atau terhadap orang-orang tertentu. Sebaik apapun budi pekertimu, saya yakin ada masa di mana kamu akan membenci sangat dalam. Kebencian sering dibicarakan sebagai sumber perselisihan, sengketa, bahkan berdampak kerusuhan dan kehancuran. Bisa jadi. Tapi banyak juga benci-benci yang tak terluapkan. Terkubur dan menunggu beberapa masa untuk mengurai semua hingga kemudian lenyap tanpa sisa.

Ini adalah saat yang tepat untuk menarik diri dari situasi yang membencikan. Ketika seseorang atau beberapa orang memicu sensor kebencian, ketika itu pula upaya defensif akan ter-ON-kan secara otomatis. Bisa saja melalui penyangkalan atau pembelaan. Namun saya selalu punya alternatif, saya memilih menghindar. Pengecut? Mungkin.

Menarik diri dari sumber kebencian sama saja menarik diri dari akar permasalahan. Banyak orang akan selalu berkoar-koar bahwa masalah ada untuk diselesaikan. Saya tidak selalu setuju, karena seringkali ditemui masalah-masalah yang terlalu fana untuk menyita perhatian saya. Saya memilih menghindar, menjauh dari kerumunan dan membiarkan masalah terkikis oleh jaman.

Dalam fase penarikan diri saya akan mengerjakan sesuatu yang lebih berarti. Karena mengutuk dan meratapi tidak akan pernah meredam benci. Saya akan hilang dan kembali. Seperti petak umpet yang tak lagi asyik untuk dimainkan, saya memilih pulang.

Selain mengerjakan hal lain adapula yang lebih penting. Yaitu meredam amarah dengan guyuran pemaafan yang dingin. Kebencian yang membara terlalu sesak dan panas untuk terus disimpan. Jadi alangkah logisnya jika sumber panas itu dimatikan dengan air dingin, yang saya maksud adalah pemaafan.

Pemaafan tak selalu verbal. Bahkan yang dimaafkan juga tak selalu harus tahu. Sebab kadang yang berbuat salah juga tidak merasa bersalah lho. Yang jelas jika masanya tiba untuk kembali bertemu maka emosi yang dulu tersulut sudah selayaknya ditinggalkan dan kembali berkawan. Karena kebencian juga menjadi terlalu fana untuk terus dipikirkan.

Saya tidak tahu apakah ini langkah bijak atau pengecut seperti yang saya bilang di awal. Saya merasa jika ada yang berbuat tidak menyenangkan pada saya mungkin karena saya melakukan perbuatan tidak menyenangkan pula pada orang lain. Jadi harus legowo sejak dalam pikiran. Memaafkan dan melupakan masa lalu. Tapi sebelumnya menjauh dulu dari sumber masalahnya, menjauh dari biangkeroknya. Menarik diri dan memaafkan sejauh ini adalah cara terbaik untuk meredam kebencian.

Intinya, pasti kita akan bertemu dengan orang yang membuat kita marah. Namun membalasnya dengan cara membuatnya marah balik adalah respon alay yang superduper alay untuk dilakukan. Ini bukan tentang membuktikan siapa yang benar dan siapa yang menang. Ini tentang membuktikan seberapa tangguh kita menahklukkan diri sendiri.

Sebelum menyalahkan orang lain, bukankah harus tahu dulu apa benar orang itu salah atau hanya ego kita yang menghendaki orang itu salah. Sebelum terpancing oleh emosi yang menjadikan masalah semakin runyam, tak ada kelirunya jika mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu. Dalam mengoreksi diri, kadang kita menemukan space yang melegakan. Space di mana bersenyaman jiwa besar dan kebijaksanaan untuk menyikapi sesuatu dengan benar menurut semesta, bukan ego.

Ah sudalah. Toh ujung-ujungnya akan balik lagi pada ungkapan “kembali pada orangnya, kalau si A bla bla bla ya dia bakal bla bla bla bla”. Mboyak!

Huft, tulisan ini begitu buruk ya. Tapi ada yang lebih buruk. Yaitu tidak menulis.

Terima kasih sudah membaca susunan huruf-huruf ini. Maaf jika saya mengecewakan. Saya sedang kalut. Mungkin sudah saatnya ada yang meluk. Tapi tapi jangan kamu, Mbang!
 
Source pict: linkedin.com

Sayat-Sayat Musik Dalam Film John Carney



Belakangan ini saya nonton tiga film buatan John Carney, yaitu Once (2006), Begin Again (2013) dan Sing Street (2016). Hebatnya, ketiga film tersebut berhasil meluluhkan hati saya hingga memasukkan nama John Carney sebagai sutradara favorit di antara Steven Spielberg dan Chris Nolan. Tidak seperti kedua sutradara yang saya sebut di atas, John Carney meracik karyanya tanpa cerita rumit dan plot twist serius. Saya rasa Carney ini spesialis film yang melibatkan musik sebagai mainannya.

Sebut saja film Once. Once bercerita tentang seorang pria patah hati yang menghabiskan waktunya dengan mengamen di jalanan sekaligus membantu ayahnya bekerja di servisan vacum cleaner. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan penjual bunga. Hari demi hari mereka selalu bertemu dan langsung klop begitu saja ketika membicarakan musik. Melalui percakapan itu pula akhirnya diketahui si perempuan tersebut ahli bermain piano. Keduanya pun mencoba untuk menggabungkan musik yang selama ini mereka mainkan sendiri-sendiri. 

Screenshoot film Once
Merasa ada kecocokan dengan musik yang saling meleburkan itu, mereka bersepakat untuk mengabadikan musik mereka melalui rekaman. Musisi jalanan pun turut mereka rekrut untuk mengisi bagian nada yang kurang. Keseruan membentuk band dan perjalanan dalam proses rekaman ini berhasil dibungkus dengan apik oleh John Carney.

Saya sendiri sampai sekarang masih tidak bisa menentukan film Once ini sebenarnya sedih atau bahagia. Kekuatan utama dari film ini adalah lagu-lagu yang touchable. Serius, semua lagunya ngena banget. Emosi ketika lagu mulai dilantunkan benar-benar sampai di perasaan saya sebagai penonton.

Lagu patah hati dengan lirik “And I, I can’t keep with you. Maybe if you slowed down for me. I could see you’re only telling... Lies, lies, lies. Breaking us down with your lies, lies, lies. When will you learn?” menjadi favorite scene bagi saya. Bahkan saat scene di studio rekaman, pada lirik “ooooo...waaaaaa......” diiringi lantunan musik yang biadab saja sudah cukup terampil mengaduk-aduk kantung mata saya, serasa ingin menumpahkan semua masa lalu yang perih dan sedikit gurih.

Kesederhanaan Once sayangnya agak lenyap di dalam film Begin Again. Begin Again terkesan lebih pop. Apalagi jika kita melihat Adam Levine turut memeriahkan rentetan cast. Begin Again lebih baik dari segi visual dan kompleksitas cerita. Namun, porsi musik sedikit tenggelam oleh drama cinta.

John Carney kembali mengangkat tema patah hati sebagai tulang punggung Begin Again. Kedua tokoh yang sama-sama mengalami depresi dipertemukan oleh musik. Saya jadi ingat dengan pemikiran teman saya yang beropini kalau setiap orang memiliki bilangannya masing-masing. Dan suatu saat bakal bertemu dengan bilangan lain yang klop. Misal, saya memiliki bilangan 6. Suatu saat saya bertemu dengan orang bilangan 4. Lalu kami ngobrol dan tiba-tiba merasa klop. Penjumlahan dari 6 dan 4 adalah 10, anggap saja 10 adalah bilangan klopnya. Semakin jauh dari angka 10, semakin tidak cocoklah kita denngan orang lain. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang baru kenal, chit-chat, lalu merasa nyambung gitu aja. Ada juga yang sudah lama kenal tapi tidak pernah bisa akrab. Mungkin jika saya bilangan 6, dia ada di bilangan 1.

Kira-kira begitulah rumusnya kenapa Gretta (Keira Knightley) dan Dan (Mark Ruffalo) bisa langsung akrab di malam saat mereka pertama bertemu. Rumusan ini tidak harus hubungan pria dan wanita, toh Gretta juga langsung klop dengan anak tunggalnya Dan, Violet (Hailee Steinfeld). Padahal Violet ini anti sosial. Sama bapaknya sendiri saja tidak akrab kok. 
Aseli ini scene kesukaan dah!! (Source: telegraph.co.uk)
Gretta adalah musisi bayangan dibalik suksesnya Dave (Adam Levine). Semacam pacar yang sama-sama berjuang meraih sukses gitu. Malangnya, Dave berselingkuh. Seganteng-gantengnya Adam Levine, pas main film akhirnya jadi berengsek juga. Ditengah kepatahhatian itulah, Gretta bertemu dengan seorang pencari bakat musik bernama Dan. Jika bicara soal musik, Dan tak pernah main-main, keras kepala dan idealis. Label yang kesulitan dengan idealisme Dan akhirnya memecatnya. Uniknya, Dan bertemu dengan Gretta tepat setelah ia dipecat dan juga tepat saat Gretta putus. Apa yang terjadi dengan mantan tentor musik yang bertemu dengan musisi berbakat bisa kamu saksikan dalam film Begin Again.

Masih membawa aura yang sama, John Carney melahirkan karya terbarunya berjudul Sing Street. Sing Street menjadikan Dublin sebagai set lokasi dalam film sebagaimana Once. Kesan tenang dan haru berhasil hidup dari musik dan sudut-sudut kota yang mendukung.

Meski demikian keberengsekan film Once tetap tak terbantahkan. Sajian cerita yang diolah dalam film Sing Street tidak beda jauh dari Begin Again. Entah perasaan saya saja, atau memang porsi dramanya terlalu bertele-tele. Sedangkan porsi drama Once sangat singkat dan lugas. Review Sing Street sudah pernah saya tulis di sini.

Selain ketiga film yang saya bicarakan dalam tulisan ini, Carney juga membuat berbagai film lain. Sampai saat ini saya masih memburunya. Sebenarnya ingin membuat tulisan utuh setelah menyaksikan semua film Carney tapi tangan dan pikiran sudah tidak sanggup menahan nafsu nulis. Jika kamu menyukai musik seperti kamu menyukai gebetan yang bertepuk sebelah tangan, berarti kamu bakal suka dengan film Carney.

Cukup sekian yang bisa saya tulis. Terimakasih sudah berkenan mampir. Oiya, jika kamu punya saran film yang berkaitan dengan musik selain film-film di atas, bisa tulis judulnya di kolom komentar ya. Saya tunggu.. 
"You know, I wasn't trying to win you over. I was telling you to fuck off." (Gretta)
Source pict: irishtimes.com

Sing Street: Memutuskan Keputusasaan


Rilis pada tahun 2016, Sing Street memberi penyegaran bagi penonton film yang sebelumnya dimanja oleh film superheroes. Sing Street merupakan film racikan John Carney, yang dikenal sebagai seorang sutradara, penulis sekaligus komposer. Carney menjadikan tanah kelahirannya, Dublin (Irlandia), sebagai set dalam semesta film Sing Street itu sendiri. Dengan menguasai materi secara menyeluruh, Carney berhasil mendapat score bagus dari IMBD 8.1 dan Metascore 79 untuk Sing Street.

Sing Street bercerita tentang seorang remaja bernama Conor Lawlor (a.k.a Cosmo) yang mengalami berbagai tekanan, baik dari keluarga maupun lingkungan sekolahnya. Orangtua Conor mengalami kebangkrutan dari sektor ekonomi dan asmara. Ibunya yang diketahui selingkuh membuat suasana malam sering diramaikan oleh pertengkaran. Untung saja Conor memiliki kakak yang woles, Brendan Lawlor. Melalui Brendan inilah Conor mengenal dan mempelajari musik lengkap dengan falsafahnya.

Conor terpaksa belajar di sekolah baru demi menghemat biaya. Sayangnya, sekolah barunya ini semacam padepokan anak-anak badung. Sebagai murid baru yang terlihat lemah, Conor sudah pasti menjadi sasaran empuk para bullyers. Alih-alih mendapat perlindungan dari komite sekolah, Brother Bexter (Kepala Sekolah) pun turut serta memberi tekanan mental untuk Conor.

Di antara beragam tekanan yang Conor alami, beruntung lah ia bertemu dengan seorang perempuan yang tinggal tepat di seberang gerbang sekolah, Raphina. Perkenalan singkat yang penuh basa-basi absurd itu ternyata memberi dampak besar bagi kehidupan mereka berdua. Conor yang merasa hidupnya tak menarik berubah menjadi penuh gairah. Demikian juga dengan Raphina yang stuck dengan impiannya berubah lebih bersemangat dari sebelumnya.

Conor membuat kelompok band bernama ‘Sing Street’ demi mengesankan Raphina. Dari sini kita bisa melihat serunya membangun grup band, mulai dari perekrutan hingga rekaman. Bermacam kesalahan dan singgungan sudah pasti terjadi. Namun kuatnya cita akan menemukan jalannya.

Setiap babak yang disajikan dalam film ini merupakan representasi kehidupan yang sangat mudah dipahami. Seperti keputusan Conor untuk tampil idealis dengan rias wajah macam rock and roll ke sekolah. Teriakan ‘banci’ dan ejekan lain yang ditujukan untuknya dengan mudah ia acuhkan. Sayangnya, ditengah kuasa Brother Bexter lah idealisme Conor menguap bagai kuota telkomsel di antara YouTube dan insomnia.

Pertentangan yang paling menonjol dalam film ini bukanlah kontes musik macam Pitch Perfect. Melainkan pertentangan atas diri sendiri dalam mengambil setiap keputusan. Bukankah kita juga sering begitu, merasa ragu di tengah pilihan dalam hidup. Takut dengan akibat yang akan kita timbulkan jika salah mengambil keputusan. Ketakutan yang tidak bisa ditakhlukkan itu yang kemudian menjebak kita dalam zona nyaman. Masih mending sih kalau zona nyaman, parahnya lagi kalau terjebak di zona yang tidak kita sukai namun tak kuasa untuk beranjak dari sana.

Mencoba melawan intervensi yang terus menghantam, Conor menciptakan lagu-lagu sesuai dengan suasana hatinya. Besutan musik dari Eamon (gitaris) selalu memberi lantunan yang pas dengan semangat yang ingin dibawakan Conor dalam lagunya. Tak luput berkali-kali Brendan juga memberi arahan musik bagi Sing Street agar lagu yang diciptakan memiliki jiwa yang hidup di antara instrumen dan lirik. Lirik yang jujur dan musik bernas menjadi suara perlawanan baik itu melawan intervensi sekolah maupun melawan kemelut rasa cinta di pihak ketiga. #Eaaaaaa

Follow your dream adalah slogan yang tepat dalam film ini. Setiap orang pasti memiliki impian atau cita. Sebuah tujuan yang didambakan, diinginkan dan begitu dirindukan untuk dicapai. Sayangnya, tidak sedikit rintangan yang menghambat langkah kita untuk meraih sebuah impian. Masih mending hanya menghambat, beberapa diantara kita ada yang benar-benar terhenti dan merelakan impiannya menguap begitu saja.

Melalui Sing Street, saya memahami satu hal penting bahwa tidak semua orang yang mengejar passion itu bakal sukses mencapai impian. Lebih tepatnya tidak semua orang benar-benar sedang mengejar passion. Karena untuk ke arah sana perlu pengorbanan yang seringkali terlalu berat bagi sebagian orang. Dalam kasus ini, Conor berani melawan ketidakmungkinan yang mengekangnya. Dengan mempersetankan kepala sekolah dan keluarga yang retak, Conor menekuni dunia musiknya yang masih abu-abu.

Apakah yang dilakukan Conor mungkin kita tiru? Saya rasa sulit, sangat sulit. Bayangkan saja kamu benci dengan sekolah lalu memutuskan drop out demi mengejar passion-mu, misal ya bermusik itu. Pasti kamu takut dengan amarah orangtua, pertanyaan tak enak saudara dan cibiran tetangga. Belum lagi ketika keraguan muncul, misal kamu mulai membayangkan bagaimana jika kamu gagal. Tak ada ijasah yang bisa mem-backup di kemudian hari. Kurang takut apa lagi coba?

Itu juga masih dalam tingkat sekolah. Bahkan yang kuliah sekalipun sering juga terbentur tidak enak hati dengan keluarga. Lalu memaksakan diri menjadi mahasiswa meski hatinya di semesta yang berbeda. Ada beberapa mahasiswa yang bisa menjejali kehidupan kampusnya dengan upaya mengejar passion. Namun ada banyak yang pasrah membunuh impian-impiannya sendiri dan melakoni track kehidupan yang sudah ditentukan.

Membunuh impian itu sangat menyebalkan dan menyesakkan. Merasakan ketakberdayaan diri adalah prestasi paling memalukan dalam hidup. Saya iri dengan Conor yang sanggup memegang teguh tujuannya, mengejarnya, bahkan mempertaruhkan segalanya. Di samping itu, saya ini jenuh dengan motivasi follow your passion yang tidak aplikatif itu. Sebab tidak semua memiliki situasi yang memungkinkan untuk mengejar passion itu sendiri. Sah-sah saja bahkan bagus sekali jika kita mencoba untuk mengejar passion, asal harus siap dengan segala konsekuensi dan pertaruhan yang menanti.

Nilai-nilai kehidupan dalam film Sing Street inilah yang patut kita resapi lebih dalam. Hingga kemudian memunculkan beberapa pertanyaan seperti: Apa tujuan hidupku? Ke mana arah tujuan itu? Apa yang harus/ingin/bisa/suka aku lakukan untuk meraihnya? Apakah orang-orang di sekitar mendukungku? Apakah aku berjuang sendiri? Bagaimana aku melewati semua ini? Satu, dua atau lima tahun lagi aku akan seperti apa? Masih abu-abu kah atau mulai saat ini aku menggambarkannya?

Sing Street memang bagus untuk diseriusi. Namun, sebaiknya perlu sedikit rileks agar kejenakaan dalam film ini juga bisa dinikmati. Ada banyak sentilan-sentilan lucu yang nyelempit dalam dialog-dialongnya. Bagusnya, porsi lucu dan asmara diatur sedemikian pas hingga tidak mengaburkan esensi yang ditawarkan Sing Street. Dari yang saya paparkan di atas, sebenarnya masih ada nilai-nilai penting yang tidak bisa saya tuliskan semua.

Cukup sudah ocehan review saya tentang film Sing Street. Semoga ulasan saya mengenai Sing Street ini bermanfaat bagi kamu-kamu yang khusyuk membaca dari awal sampai kalimat ini. Jadi, kamu sudah nonton film ini belum? Yuk berbagi sudut pandang dengan berkomentar di bawah. Terima kasih sudah berkenan mampir. Sampai jumpa di tulisan saya yang lain. Caoo! 
 
Pict source: gannett-cnd.com

Curahan Hati Seorang Pertapa Skripsi



Tinggal menghintung hari saya akan punya adik tingkat lagi. Bukan apa-apa, hanya saja saya tidak ingin takabur kalau dianggap pertapa suci. Sebagai mahasiswa babak akhir yang tak segera diakhiri, saya sebenarnya sudah cukup lelah dengan keterkejutan muda-mudi maba (mahasiswa baru) ketika saya menyebut bilangan tak wajar dalam tingkatan semester.

Mereka yang bercita-cita menyelesaikan kuliah dalam delapan semester tentu terheran-heran mengetahui level studi saya jauh di atas itu. Daripada disebut terheran-heran, lebih tepatnya mereka ketakutan setengah mati kalau nasib mereka bakal seperti saya. Sebab, tidak jarang yang masuk jurusan saya itu muda-mudi salah jurusan. Sama-sama tahulah rasanya kuliah di jurusan yang tidak diinginkan dan akhirnya mencapai fase stuck tidak tahu mana ujungnya.

Bisa dibayangkan bagaimana muda-mudi maba dengan mata berbinar-binar menatap masa depan itu tiba-tiba saja syok melihat pertapa skripsi seperti saya. Seolah impian dan cita-cita indah mereka saya runtuhkan begitu saja. Pada tahap ini daripada disebut Grandmaster, saya kok malah jadi merasa seperti Valak ya.

Pengalaman saya sebagai pertapa skripsi cukup beragam. Saya sering dimintai wejangan oleh muda-mudi adik tingkat. Mulai dari tanya celah-celah dosen hingga bocoran tugas kuliah. Bahkan sesekali ada yang mengadu tatkala ac tidak nyala atau kunci ruangan ketlisut. Pengaduan yang terlalu asu untuk saya jawab itu kok ya kurang ajar tenan ya. Kalau nanti benar ada muda-mudi maba yang mengadu masalah listrik dan air ke saya, sudah pasti bakal tak kamehameha kavum orismu lho dek.

Tidak cukup dengan itu. Saya paling jengah kalau ada pertanyaan “kamu ngapain di sini, Mas?”. Sekilas kalimat tanya itu biasa saja, namun yang demikian memiliki makna yang sangat dalam bagi saya. Saya ini kan pertapa skripsi, tentu mahasiswa fana akan bingung kalau lihat saya keluar dari gua pertapaan. Pertanyaan yang seperti itu mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, saya harus kembali ke gua petapaan agar skripsi segera selesai. Dan kedua, saya sudah tidak artsy lagi untuk ongkang-angking di kampus atau sebut saja terlalu pakdhe-pakdhe!

Meski demikian, sebagai seorang pertapa tentu saya harus arif dan bijaksana menyikapi muda-mudi adik tingkat yang maha polos itu. Misalnya dengan tidak mengajarkan dunia pertapaan kepada mereka yang masih terlalu hijau. Jika mental mereka belum siap, jangankan menjadi pertapa, baru setengah jalan belajar jadi pendekar pun mereka pasti tumbang alias DO.

Kalau sedikit mengutip kata Sapardi sih lulus itu fana, yang abadi adalah skripsi. Yakin mau menapaki jejak ini? Huh!
Maka dari itu wahai muda-mudi mahasiswa baru yang saya sayangi. Jangan coba-coba menapaki jejak langkah saya menjadi seorang pertapa skripsi. Sebab jalan ini begitu terjal dan tidak jelas di mana ujungnya. Sebelum kamu tersesat sebaiknya percayalah pada wejangan saya. Jangan mudah tergiur menguasai ajian langit yang sekilas terlihat hebat. Pada kenyataannya kesempurnaan skripsi tidak sereceh kesempurnaan cinta. Segera selesaikan dan tak usah berlagak idealis pengen jadi sakti. Boro-boro jadi sakti, yang ada malah jadi sesak di hati.

Kampus adalah sebuah padepokan silat. Kamu bisa lulus dari sini dan menjadi pendekar (sarjana) hanya cukup dengan menuntaskan semua latihan dan ujian. Di akhir, kamu harus menciptakan sebuah jurus (skripsi). Jurus ini harus bagus dan kuat. Namun seringkali ada calon pendekar yang tergiur untuk memperdalam jurusnya bahkan menguasai ajian-ajian langit hingga menjadi seorang pertapa. Sebagai pendekar, kamu tidak perlu sampai menguasai ajian langit. Sebaiknya kamu segera selesaikan satu jurusmu saja. Jika ingin menjadi pertapa seperti saya ikutilah langkah yang benar dengan meneruskan kependekaran di jenjang berikutnya (S2).

Salam dari gua pertapaan. Doakan semoga jurus saya segera selesai.

Source pict: thegoodhuman.com

Kematian Alayist di Semesta Facebook



Banyak di antara kita yang berpendapat jika facebook adalah barang lama, usang dan gak layak pakai. Bahkan ada yang merasa jijik macam najis mugholadoh gitu. “Yaelaah.. hari gini masih fesbukan? Instagram dong, Path dong..”. Banyak nyinyiran yang ditujukan pada user facebook yang masih aktif, tapi tetap yang paling hits adalah nyinyiran “Facebook? Alay!”.

Sebagai aktivis perfesbukan tentu saya merasa bingung dan tratatapan. Lha wong yang posting di IG atau Path saja kadang muncul di Facebook juga kok. Bahkan ada pula yang masih repot-repot upload foto bekas upload-an IG di beranda facebook. Hingar bingar itu saya cuekin saja, kalau kontennya mengganggu ya saya stop following, kalau enggak yaudah saya biarin.

Klaim alay yang melekat di facebook ini tak ubahnya catatan buruk dalam sejarah facebook di Indonesia. Karya Mark Zuckerberg ini ngeksis di Indonesia tepat saat saya duduk di bangku SMA. Sekolah saya itu statusnya agak paradoks. Dibilang anak gaul kota enggak, karena ada sekolah yang lebih gaul. Dibilang kampungan juga enggak, karena ada yang lebih kampung. Meski demikian paham yang paling banyak dianut oleh kami saat itu jelas alayisme.

Alayisme adalah paham yang berambisi pada ego dengan mengedepankan emosi sesaat, kelabilan absolut dan kenorakan yang masif (Ilham, 2016). Awalnya para penganut paham ini disebut alayist. Namun karena terlalu susah diucapkan dan diketik, akhirnya cukup disebut sebagai alay.
Hingga saat ini populernya alayisme masih cukup bias, apakah facebook yang membawa paham ini atau kebetulan saja paham ini muncul bertepatan dengan masuknya facebook di tengah masyarakat kita. Paham alayisme ini banyak dianut oleh para remaja pada tahun 2007-2012. Hingga kemudian mengalami fase renaissance pada tahun-tahun berikutnya.

Dengan melihat kronologi sejarahnya, maka wajar saja jika ada yang bilang fesbukers saat ini adalah alayist yang tertinggal. Masa lalu yang kelam akan selalu menjadi pro dan kontra. Ada yang mendukung digunakannya facebook kembali dan ada pula yang menentang. Tidak beda jauh dengan mantan. Ada yang ingin balen ada juga yang ingin move on. Dyar!

Dalam rangka memahami lebih jauh tentang hal ini, saya berdiskusi dengan seorang blogger nomaden, Bella. Dia ini teman saya semasa SMP. Namun perbedaan SMA dan juga ruang kuliah memberi jarak pada pertemanan kami. Satu-satunya yang merekatkan friendzone kami ya facebook itu.

Dulu pernah di-block Bella (kampret) karena saya terindikasi alayisme kritis. Namun dengan semangat rennaisance ala Nicolaus Copernicus, dia membantu saya keluar dari kesesatan masa-masa itu. Hingga kemudian kami berdua sebagai fesbukers garda depan bersepakat pada sebuah teori.

“Bukan salah facebook kalau isi berita di timeline-mu buruk.”
Teori ini sangat jelas dan dapat dipercaya. Prakteknya, saya perlu sedikit repot membersihkan lingkaran pertemanan dari para alayist. Lalu menjalin pertemanan dengan orang-orang yang bermutu tinggi tapi harga tetap terjangkau seperti RA Jeans. Saya juga keluar dari grup gak penting, kemudian masuk di grup yang aktif dan sesuai dengan passion. Tak luput saya mengganti fanspage gaje yang dulu pernah saya ikuti dengan fanspage yang lebih edukatif, informatif dan talitha latief.

Selain ketakutan pada hantu-hantu alayist, orang-orang yang enggan memakai lagi akun facebook-nya juga terlalu skeptis dengan tingkat keapdetan. Kembali lagi dengan teori diatas, jika lingkaran pertemananmu adalah anak-anak apdet ya kamu gak bakal kudet. Tapi jika lingkaran pertemananmu memang orang-orang yang masih berdebat tentang penampakan dajjal dan hari akhir yasudah, aku mung isoh trenyuh.

Terlepas dari uraian yang saya tulis di atas, harus diakui jika setiap sosial media memiliki user-nya masing-masing. Saya yang cocok di facebook, mungkin tidak cocok di twitter. Yang cocok di Path, bisa juga tidak cocok di IG. Namun, jika kamu adalah blogger yang suka nulis pengalaman pribadi dan pemikiran abadi, saya rasa kamu bakal cocok main di Katanium. Setidaknya bisa dicek dulu, barangkali bisa menciptakan lingkaran pertemanan yang sehat jasmani dan rohani. Semoga apa yang saya paparkan memberi manfaat, kalau ternyata tidak ya mohon diampuni. Isohku ki yo mung nulis-nulis ora penting, sing penting iku gur status singgelmu.

Maaf Ya Kawan


Malam lebaran, ketika jalanan yang biasanya hening berubah menjadi lautan manusia dengan kepentingannya masing-masing. Ketika kesunyian berubah menjadi hingar-bingar pestanya para animal simbolicum. Ketika itu pula saya duduk termenung di meja kerja, mencoba berpikir dan merasa, barangkali ada sesuatu yang perlu saya lakukan.

Jujur saja, saya ini orang yang kelewat sombong sampai jarang sekali meminta maaf di kala lebaran. Entah kenapa rasanya kok berat kalau saya meminta maaf tanpa tahu salah saya apa. Sudah menyakiti orang lain, pas minta maaf pakai kata-kata kopi paste standar lebaran itu kok kesannya kurang ajar sekali.

Dalam benak saya ada yang harus lebih didahulukan daripada meminta maaf, yaitu memaafkan. Saya percaya memaafkan lebih berat daripada minta maaf. Jika yang menghalangi seseorang untuk minta maaf adalah ego, maka penghalang seseorang untuk memaafkan adalah dendam.

Berbuat jahat pada orang lain lalu minta maaf itu standar. Kalau dijahati lalu memaafkan itu suangar.
Terlepas dari itu di malam yang syahdu ini saya bermaksud meminta maaf kepada para pembaca blog saya. Dalam menyajikan tulisan-tulisan di blog ini, saya akui masih level kacangan. Mengingat struktur penulisan ala sego mawut yang sudah pasti bikin pembaca bingung, atau isi tulisan yang tidak ada penting-pentingnya bagi anda, saya mohon maaf.

Empat tahun sudah blog ini mengejar eksistensi di dunia maya, dari awal mula masih alay sok asik kini jadi blog alay yang fix gak asik. Ada banyak sekali perubahan dalam blog ini. Mungkin masih ada yang ingat dulu blog ini bernama “Sadewa Blog” atau “Miniboy Blog”. Kalau beneran masih ada yang ingat dengan dua nama itu, saya ucapkan terimakasih karena berarti anda pembaca setia yang bisa tahan dengan ke-alay-an masa lalu. :D

Saya juga minta maaf jika ada yang mencari tulisan lama saya di blog ini dan sudah tiada. Ya. Saya sengaja menghapusnya. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti: njiplak tulisan orang lain, terlalu alay, terlalu gak penting, terlalu wagu dan segala pertimbangan yang sepertinya tak layak untuk dibaca ya saya hapus.

Dalam beberapa tahun sebelumnya, saya akui saya tidak serius dengan aktivitas ngeblog. Hal ini pasti membuat pembaca tidak nyaman. Misalnya tampilan blog yang awut-awutan, tampilan tulisan yang bikin sakit mata, penggunaan bahasa yang bikin muntah dan lain-lain, saya haturkan permohonan maaf lagi. Dan ketidakseriusan tadi mungkin juga membuat blogger lain tidak nyaman, untuk itu lagi dan lagi saya mohon maaf.

Tak luput untuk semua pihak yang kebetulan baca tulisan saya dan ternyata malah nama anda saya jadikan bahan banyolan, seperti Saiful Jamil hingga Duo Serigala (ngapain juga mereka sempet nyasar di mari). Dengan penuh khidmat dan ketetapan hati yang khusyuk, saya mohon maaf.

Sejauh ini, beberapa hal diatas adalah yang saya ingat dari kesalahan saya. Jika ternyata ada yang kurang, dengan senang hati saya menerima koreksi.

Selain itu, jika boleh jujur memang ada beberapa orang yang bikin risih. Misal iklan peninggi badan, judi bola dan obat kuat yang berceceran secara masif nan sistematis di kolom komentar. Atau orang yang kehabisan ide tapi punya semangat ngeblog sampai copas tulisan saya meski cuma dua artikel :D . Dengan riang gembira, saya turut memberi maaf. Terdengar sombong ya, hahahaha.

Semoga ajang maaf memaafkan ini tidak sekedar simbol lebaran tapi juga pemaknaan yang mendalam. Berjabat tangan tanpa ketulusan seperti Taro tanpa rasa rumput laut. Bermaaf-maafan sekadar formalitas seperti cinta tanpa pertengkaran kecil. Tidak lengkap, tidak utuh dan tidak afdhol. Harapan saya sih kita tidak terperangkap dalam budaya tahunan ini sebatas kulit luarnya saja. Tapi bisa tenggelam dalam esensi yang semestinya.

Selamat Berhari Raya dengan pemaknaan kita masing-masing kawan. Tetap kondusif, jaga kerukunan dan tak perlu anarki. Semoga teror ledakan-ledakan tidak terulang kembali, minimal tidak terjadi di sekitar kita. Sampai jumpa di postingan saya berikutnya. Terima kasih.

Regards. 


Source pict: hypebeast.com

Lebaran dan Hantu-Hantu Hedonis


Pulang dari acara buka bersama, saya menyempatkan diri mampir ke minimarket untuk membeli cemilan dan sekaleng kopi. Pada saat antri di kasir, saya dapati pembeli lain dengan belanjaan yang kurang masuk akal kalau untuk dihabiskan dalam satu malam. Sirup empat botol, segepok permen, dua lodong astor dan satu gembrengan biskuit. Mata saya kemudian menerawang di balik pintu kaca minimarket sambil bergumam: “inikah yang dimaksud ‘hilal’ sudah terlihat?”.

Di daerah saya, untuk mengenali tibanya Hari Raya Idul Fitri sangatlah mudah. Ada beberapa gejala visual yang selalu terjadi: lihat orang belanja siang malam, lihat kembang api, lihat manusia dimensi lain jual uang baru, lihat beras, dan lihat orang-orang minta maaf tapi masih tidak sadar salahnya di mana. Jika semua gejala itu sudah terjadi, maka sudah bisa dipastikan lebaran jatuh pada esok harinya.

Hal ini kontras sekali dengan yang saya tahu di Tajikistan melalui buku Garis Batas (Agustinus Wibowo). Tepatnya di Yamchun ada dialog yang menarik, persis saya kutip dari buku seperti ini:

“Kakak,” saya berseru ke arah para pemandi, “suka sekali ya berendam di air panas?”

“Hari ini hari libur. Jadi kami segerombolan menyewa mobil jauh-jauh dari Ishkashim,” kata seorang dari mereka.

Hari libur? Hari libur apa?

“Masa kau tak tahu? Ini adalah hari Idul Fitri. Hari Raya penting bagi umat Muslim,” jawabnya.
Padahal beliau (Agustinus Wibowo) ini juga seorang muslim yang sedang di negeri mayoritas muslim pula. Namun penggambaran kondisi di Asia Tengah itu benar-benar berbeda sekali dengan Indonesia. Ketika kita berdebat elok tentang warung makan yang buka siang atau tentang satu dua gelintir kalimat “hormati yang tidak puasa”, ternyata di Dushanbe dan Istaravshan umat muslim enjoy saja menenggak vodka di pinggir jalan meski saat bulan puasa. Jadi yang diperdebatkan di awal puasa dulu tidak perlu dan tidak mutu.

Minal ‘Aidin wal Faizin, kalimat yang sering diucapkan setiap lebaran. Arti ucapakan itu sebagaimana yang kita tahu adalah ‘kita kembali dan meraih kemenangan’. Bagi saya ini cukup menarik untuk diperbincangkan. Saya meyakini kekuatan sebuah bahasa mampu mengkonstruksi budaya dari akar hingga ke seluruh cabangnya. Istilah ‘kemenangan’ rasanya memang sepele, tapi prakteknya ternyata tidak sesepele itu.

Masyarakat kita entah mengapa mengartikan kata ‘kemenangan’ dengan sangat rigid. Dalam banyak kejadian ‘kemenagan’ bisa disebutkan dalam beberapa konteks seperti kemenangan perang, kemenangan pertandingan, kemenangan cinta dan lain-lain. Dan belum lengkap disebut sebagai sebuah kemenangan kalau belum disimbolkan dengan perayaan. Kalau dalam masyarakat Jawa biasanya ada yang namanya tradisi syukuran, yaitu sebuah upacara yang melambangkan rasa syukur.

Alih-alih khusyuk menangis tersedu-sedu disela sujud malam, kemenangan ini dirayakan dengan pesta hedonistik. Simbol-simbol hedon ini bisa kita lihat dari gejala-gejala yang terjadi menyambut Idul Fitri. Misalnya kita lihat meriahnya petasan dan kembang api. Sekian ribu dijajakan untuk kenikmatan semata melihat indahnya letupan kembang api. Bahkan anak-anak yang lebih futuristik cenderung memilih petasan (entah estetisnya di mana) sebagai pemicu kesenangan mereka. Jangan kira ini hanya ulah isengnya anak-anak. Orangtua yang tidak melarang juga menjadi bagian dari pendidikan hedon usia dini.

Apalagi jika kita menelisik Jasa Tukar Uang Baru. Dilihat dari segi manapun kita akan temukan simbol hedonis nan materialis yang kuat. Bagaimana tidak, orang-orang rela ‘membeli’ uang yang sebenarnya nominal dan nilainya sama. Hanya demi sebuah kebaruan yang kalau dikasihkan ke orang lain biar kelihatan sedikit lebih elok. Dari sini kita temukan bagaimana uang pun nilai tukarnya bisa berubah jika dilihat dari segi fisiknya. Entah kenapa masyarakat kita suka menghindari substansi dan menjadi penghamba ‘kulit luar’.

Belum cukup dengan itu, dalam upaya menjadikan Idul Fitri sebagai hari se-perfect mungkin, orang-orang berburu kemegahan melalui busana dan asesorisnya. Gejala satu ini ibarat gado-gado komplit, sudah hedonis dan materialis ini masih dilengkapi konsumeris pula. Bagi pemilik modal jelas ini makanan empuk. Tinggal buka lapak bertuliskan ‘diskon’ yang sebenarnya bukan diskon juga, sudah bakal diserbu orang-orang. Apalagi jika melihat masyarakat kelas menengah kita sangat ingin mencitrakan dirinya seperti orang-orang kelas atas.

Jika melihat fenomena-fenomena itu saya merasa Hari Raya kok lebih fana dari Hari Kemerdekaan. Bicara religiusitas juga tidak penting lagi, karena tingkat ketaqwaan sudah seolah terwakili oleh pakaian bersih, baru, model kekinian dan semerbak wewangian surga. Para lakik tampil dengan baju koko yang dipadukan dengan celana skinny, belibet gelang dan potongan rambut undercut seolah mencitrakan sosok bad boy surgawi. Kalau sudah begini mustahil kalau mau membicarakan tragedi di Turki, karena Piala Eropa jelas lebih menarik.

Tapi mau bagaimana juga perayaan ini sudah mendarah daging di kebudayaan kita. Kalau diusik bisa-bisa kena gampar. Tulisan ini juga tak ada maksud untuk merendahkan, meremehkan atau mengusik kefanaan yang sudah mapan. Hanya unek-unek yang barangkali ada yang setuju. Sebab saya getir sekali, semakin ke sini untuk merayakan Idul Fitri kok foya-foyanya makin dahsyat. Seolah kalau belum membelanjakan uang besar-besaran takut ibadah Ramadhannya tidak diterima Gusti Allah. Lebih getir lagi kalau hedonnya ini takut dicap ‘orang tak mampu’ oleh keluarga atau tetangga alias GENSI. Duhhh.. Mau kembali suci kok mekso men.

KKN (Kisah Kasih Ndasmu)


STOP bergurau tentang KKN dengan memanjangkan singkatannya menjadi ‘Kisah Kasih Nyata’. Mengapa? Karena itu BASI. Bagaimana tidak basi, saya sudah dengar gurauan itu sejak Ibu saya masih setangguh Natasha Romanoff. Jadi jika di tahun 2016 ketiga kata itu masih kamu dengar, segeralah kamu daftarkan orang yang ngomong itu ke museum.

Sebagai seorang jomblo militan dan aktivis kesetaraan cinta, saya tidak bisa tinggal diam. Saya merasa getir dengan nasib para jomblo-jomblo militan yang tersebar di seluruh Indonesia, yang dengan adanya KKN ini membuat naluri buas mereka meronta-ronta. Naluri buas yang sudah mereka pendam sejak lama, jika terhambur keluar bisa mengancam kedamaian Dinasti Jomblo Nusantara. Untuk itulah saya harus membongkar semua kepentingan di balik program KKN melalui tulisan ini.

Program KKN adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu(1). Kegiatan ini harus memadukan tri dharma perguruan (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian) kepada masyarakat. Sejak tahun 1971 tidak pernah ada ceritanya program ini banting setir jadi ajang pengembangbiakan asmara. Jika dalam prakteknya banyak yang menjadikan KKN ini ajang pencarian jodoh, hambok wes meluo program Take Me Out Indosiar.

Saya masih ingat ketika saya mengikuti pembekalan KKN, ada pembicara yang berulangkali membuat gurauan tentang jodoh. Beliau bilang di lokasi KKN bisa terjadi cinlok. Baik itu sesama peserta KKN dalam satu kelompok, peserta KKN antar kelompok maupun peserta KKN dengan warga desa. Jika saat pembekalan saja materinya semengerikan ini, mentalitas jomblo yang lemah bisa terguncang habis-habisan. Saking terguncangnya, saya jadi kasihan kalau ia sudah membulatkan tekad untuk mendapat pacar saat KKN ternyata harus pulang dengan tangan hampa. Bayangkan, betapa depresinya mahasiswa itu.

Contoh di atas baru tahap pembekalan, di lokasi KKN situasinya lebih ngeri lagi. Dulu saya mendapat tempat menginap satu rumah untuk seluruh anggota tim, baik laki-laki maupun perempuan. Rumah itu hanya terdiri dari dua ruangan, ruang tidur perempuan dan ruang tamu. Sedangkan kamar mandi ada di luar rumah. Mau tidak mau kami saling tahu aktivitas antar anggota tim. Mau masak, mandi, nyuci, nyapu, ngepel, galer, pokoknya semua pasti tahu. Mau yang muka kelas L’oreal hingga kelas Biore kalau bangun tidur yang kita lihat ya muka-muka iler semua, kami tahu itu.

Dari kebiasaan bersama itu kita akan tahu karakter teman kita yang seasli-aslinya, tanpa pencitraan dan reka-reka. Kecuali kamu titisan Christian Grey, yang bisa pura-pura jadi makhluk sempurna. Dengan mengenal begitu dalam seseorang, tinggal nunggu waktu yang tepat saja untuk merasakan gejolak-gejolak baper. Di sinilah loyalitas para jomblo diuji, mau menuruti kebaperannya atau mau mempertahankan dinasti para jomblo.

Saat ini jomblo bukan lagi sebuah status kesendirian. Jomblo adalah sebuah pergerakan yang menentang kekuasaan orang-orang berasmara. Jomblo adalah simbol perlawanan terhadap intervensi kapitalisme cinta. Dalam hitungan kasar, para jomblo yang tergabung dalam pergerakan ini sudah mencapai 15JUTA jiwa. Kami masih sembunyi-sembunyi menyebarkan ajaran jombloisme, jika waktunya sudah tepat kami segera melancarkan revolusi.

Di kampus saya, UNS Solo mengalami reborn KKN pada angkatan 2011. Fakta ini menunjukan bagaimana perlawanan terhadap pergerakan jombloisme begitu menghawatirkan. Meningkatnya mahasiswa yang teridentifikasi sebagai jomblo meresahkan civitas akademika bahkan mengganggu jalannya perkuliahan. Bagaimana tidak menganggu, sepeda motor yang bisa dinaiki berdua dengan kekasih harus dikendarai sendiri-sendiri dan sudah pasti membludaklah area parkiran kampus. Gara-gara itulah mahasiswa tidak hanya kesulitan mencari dosen pembimbing tapi juga kesulitan mencari slot parkir yang kosong dan helm yang hilang.

Semangat jombloisme berbanding lurus dengan semangat titip absen. Ini sungguh meresahkan pihak kampus. Dengan kemandirian dan kebebasan absolut yang dimiliki oleh jomblo, membuat mereka leluasa bolos kelas dan kluyuran entah kemana. Maka dari itu pihak kampus terpaksa menggalakkan program-program makcoblang agar mereka ini punya pacar. Kehadiran pacar akan menunjang kerajinan dan sangat memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. Selain itu memberdayakan pacar juga jadi solusi yang tepat mengingat peran Pembimbing Akademik (PA) kurang efektif. Program pemberdayaan pacar ini adalah kartu AS yang dimiliki pihak kampus, selebihnya sering disebut sebagai external force program.

Jika melihat dampaknya, KKN sudah pasti agenda utama dari external force program. Tidak dapat disangkal lagi. Penganut jombloisme garis keras begitu ikut KKN langsung punya pacar. Saya pun semakin curiga kalau KKN diam-diam melakukan brain wash kepada kami para jomblo militan. Tapi bagaimana caranya? Kapan? Dan kenapa tidak berdampak pada saya? :O

Setelah saya diskusikan dengan teman-teman jomblo yang selamat dari kiamat sugro ini, usut punya usut kami menduga penyebabnya adalah saat tes kesehatan. Salah satu syarat mengikuti KKN adalah dengan menyertakan surat keterangan sehat. Untuk itu kampus memfasilitasi bagi calon peserta KKN agar bisa melakukan tes kesehatan secara gratis di klinik kampus. Pada waktu itu karena saya males antri dan pilih bayar dua puluh ribu, saya priksa ke PKU dekat rumah saya.

Benar saja. Selama KKN saya tidak merasakan benih-benih asmara. Bahkan barisan mamah muda di desa Tompegunung (Kab. Pati) pun tak mampu menggetarkan dopamin dan libido saya. Termasuk Mbak Rini yang konon kecantikannya melebihi Hathor, Aphrodite bahkan Freya. Kehadiran Mbak Rini sebagai penjual es batu dan pulsa di desa Tompegunung membuat saya semakin curiga kalau semua perihal KKN ini cuma ilusi semata. Dilogika saja, bagaimana mungkin titisan Dewi Freya yang pesonanya bikin Mbah Odin bertekuklutut bisa-bisanya ada di lokasi KKN saya. Satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah mbak Rini ini agen yang dikirim pihak kampus sebagai bagian dari external force program.

Melihat realitas yang saya temukan di balik program KKN membuat saya depresi. Pergerakan para jomblo militan regional Solo mengalami kemerosotan yang begitu tajam. Batin saya sebagai jomblo garis keras tersayat-sayat melihat kawan-kawan saya mulai berpasang-pasangan :'( . Gagasan saya yang mengutip Pram tentang “jomblo sejak dalam pikiran” pun tertolak oleh mereka para mantan-mantan jomblo. Bahkan saya juga tak luput mengutip kata-kata sakti Bung Karno “beri aku sepuluh pemuda (tanpa pacar) maka akan kuguncang dunia”. Ternyata ungkapan itu sudah tak selevolusioner dulu.

Dengan berat hati saya mengakui jombloisme untuk zaman ini sudah gagal. Lemahnya mentalitas para jomblo dan kuatnya kapitalisme cinta memaksa saya mundur dari pergerakan ini. Hingga menunggu waktu yang tepat datang, saya akan bersiap dengan pergerakan berikutnya. Untuk saat ini saya ingin fokus skripsi dulu, pergerakan ini saya turunkan pada kalian wahai pemuda. Terserah dengan strategi kalian nantinya, saya akan menyaksikan bagaimana postjombloisme ini menjatuhkan kolonialisme cinta. Sukur-sukur jika kalian bisa memboikot KKN, minimal dimulai menyebarkan isu kemerdekaan melaui slogan “Kisah Kasih Ndasmu”.

Source pict: digitalcommonwealth.org