Berawal Dari Serigala Kini Jadi Keluarga


Beberapa waktu lalu saya install Telegram Messenger, yaitu sebuah aplikasi chatting seperti WhatsApp dan Line. Bedanya, Telegram ini lebih ringan, tidak ada iklan, benar-benar gratis dan bisa digunakan untuk memainkan beberapa permainan beregu.

Setelah saya install Telegram, saya masuk ke dalam sebuah grup yang beranggotakan Justin, Jung, Hana dan saya sendiri. Di dalam grup itu kami memainkan beberapa permainan seperti Fambot100, Sambung Kata dan UNO. Namun, ada satu permainan yang membuat kami penasaran, namanya Werewolf. Permainan ini harus dimainkan setidaknya oleh lima orang. Yah.. Jumlah kami tidak mencukupi. Melihat keresahan itu, akhirnya kami pindah ke grup yang khusus memainkan werewolf, WWF (World Werewolf Federation).

Saya mengumpat sejadi-jadinya tatkala melihat ada player yang memakai nama “Mia Khalifa”. Sebab, nama itu tidak cocok bersanding dengan foto profilnya yang menampilkan sesosok hasil reinkarnasi kaleng susu kental manis Frisian Flag. Tak lain dan tak bukan adalah Icha, seorang blogger spesialis review film dewasa. Jangan-jangan BoboiBoy kalau direview Icha juga jadi film semi. Lalu saya intip adminnya, ia memakai nama Tom Hansen. Seketika terketuk nurani saya untuk memakai nickname “Justin Bibit”. Gayung pun bersambut. Nama-nama aneh mulai marak dipakai oleh para member.

Sebelum bertemu dengan WWF, saya selalu terlibat dalam grup yang seriusnya overdosis. Kalupun mencoba untuk bersendau gurau, candaannya itu garingnya level host Insert. Kalau terlibat dalam grup seperti itu rasa-rasanya kok ingin makan bakso pake kuah Jack Daniels. Ben genah gendheng e.

Untung saja WWF hadir membawa nuansa bening melebihi beningnya gigi Junot. Junot itu yang gantengnya diaku-aku sepantaran dengan member baru kami, Reyhan Ismail. Bedanya, Junot itu aktor, sedangkan Reyhan itu serutan teh botol. Beda tipis. Reyhan ini kelakuannya kampret sarumpret kutu kupret minta dijebret emang. Bagaimana tidak? Kami minta dia kirim voice note biar tahu suaranya kayak gimana. E malah ngirim voice note adzan! Jam sepuluh malem! Gile. Passion muadzin memang susah disembunyikan. 


 

Kelakuan member kayak gini nih yang sebenarnya kami doyan. Buat bahan bully. Tapi kami nge-bully bukan karena kami benci atau berniat untuk menindas. Itu candaan keakraban. Memang harus bermental kuat jika menjadi bagian dari grup ini. Jika tidak sanggup bertahan dengan candaan kami, bisa langsung left tuh. Sudah ada beberapa yang begitu soalnya. Hehehe.

Nah, jika kamu (yang sedang membaca tulisan ini) ingin mencoba bergabung dengan kami silakan saja. Kami menerima tamu dari manapun. Tapi sebelumnya, bisa disimak dulu beberapa alasan mengapa grup WWF ini menjadi menyengangkan bagi saya.
 
1. Membernya dari orang-orang berbagai daerah yang belum pernah saya temui di dunia nyata.

Saya sering merasa bosan dengan grup yang isinya teman-teman sekampusan, sesekolahan atau sekota. Berkali-kali saya terbesit keinginan untuk kenal dengan orang-orang di dunia maya yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Salah satunya lewat prostitusi online misalnya. Matamu! Enggak. Grup WWF ini maksudnya. Member grup ini ada yang dari Jakarta, Bandung, Medan, Solo, Semarang, Samarinda bahkan Brunei Darussalam. Digital itu kenyataan, gaes. Ditinggal nikah juga kenyataan . 

2. Membernya para content maker

Di dalam grup ini ada beberapa blogger, penulis buku, vlogger dan lain-lain. Kebiasaan sebagai seorang content maker ternyata berpengaruh pada aktivitas chat yang tak wajar. Kami selalu menemukan topik yang seru untuk diperbincangkan. Mulai dari fenomena yang terjadi di sosial media hingga pernikahan Yuliana. Bahkan saat tidak ada topik pun kami tetap bisa membuat permainan Werewolf menjadi seru. Jarang banget ada grup lain yang setiap hari punya bahan baru untuk diobrolkan dan dibercandakan. Selalu ada saja cara untuk membuat grup ini tetap hangat, sehangat referensi filmnya Uda.
 
3. Tidak baper.

Ini penting saudara-saudara. Sudah berapa banyak kita terlibat drama di dalam grup? Sudah seberapa sering bercandaan yang kita lontarkan bikin temen kita baper? Sering! Sementara itu, WWF ini tidak ada baper-bapernya. Mau ngata-ngatain, bikin meme, ngomong kasar bahkan SSI sekalipun tetep tidak mbaperi. Kita yang ada di grup ini sadar jika segala bentuk chat yang terlontar adalah bercandaan belaka. Saking seringnya bercandaan, kadang kalau lagi ada yang mau ngomong serius juga dianggap bercanda. Sampai-sampai ada yang curhat dirinya ditinggal kawin sama mantan, eh malah dibercandain juga. Parah kalean! Parah! Pokoknya kalau masuk di grup ini tuh tidak boleh baper. Kayak kalau gangbang itu lho. Tidak baper. Sikat semua yang nganggur.
 
4. Tempat pelarian jika terjebak dalam situasi awkward di dunia nyata

Misalnya saja jika kamu terpaksa menghadiri sebuah rapat atau saat kamu menunggu jemputan suami orang. Kan itu membosankan sekali ya. Kebosanan itu bisa kamu tumpas dengan melakukan permainan werewolf atau hanya sekedar ngobrol ngalor-ngidul bebas di grup WWF.
 
5. Curhat

Grup ini mengalami perubahan yang sistematis dan masif. Dari yang awalnya hanya untuk main game, kini kami mulai membicarakan hal-hal sensitif dan intim. Keakraban yang terjadi di antara kami ternyata menimbulkan rasa nyaman. Kenyamanan itulah yang membuat kami terbuka soal urusan pribadi. Beberapa mulai cerita kerapuhan yang sedang dialami dan yang lain mendukung, memberi nasehat dan tentu saja menjadikan itu sebagai bahan lelucon. Asyik lho curhat sama orang yang tidak kita kenal di dunia nyata.
 
6. Ruang jodoh

Jika kamu adalah orang yang terjebak dalam lingkup pertemanan yang kemungkinan dapat jodohnya useless, grup ini solusinya. Gampang saja, mulai dari obrolan hangat di dalam grup lalu beralih mengirim pesan pribadi ke sasaran jodoh yang dituju. Siapa tau bisa kejadian. Meski sampai saat ini sepertinya memang belum ada yang menuai jodoh di dalam grup WWF. Tapi sudah ada yang mulai nampak, sih. Tuh si Radhian dan Darma sudah menunjukkan tanda-tanda ke arah sana. Lagaknya saja godain Hana, aslinya mereka saling lempar kode cinta. 

Klik aja.

Nah, jadi itu saja yang bisa saya catat. Selebihnya tidak bisa ditulis, hanya bisa dirasa. Oiya, kami sangat membuka diri buat kamu yang ingin bergabung dengan grup WWF. Tidak ada persyaratan apapun. Kamu bisa langsung join. Makin banyak yang join, kami malah makin seneng. Asalkan nggak ngawur aja bercandaannya. Soalnya pernah tuh dulu yang ngirim stiker hentai dan foto telanjang. Kalau kamu pengen kayak gitu mending MINGGAT wae! AMARGO KUI ORA LUCU BLAS, SU!

((Maaf. Sampah. Iya ngerti.))

Yasudah, gaes. Saya tunggu kehadiranmu di grup WWF ya. Kalau mau join tinggal klik ini. Kalau mau tau dulu peran-perannya apa saja yang ada di game werewolf bisa langsung cek di blognya si admin grup ini. Kalau mau baca hasil kolaborasi saya bersama salah satu member di sana bisa cek pada tulisan ini. Sampai jumpa di grup ya! Bhae. 
Semangat, Son!

Image source: geekdad.com

Dari Pengendara, Cinderella Hingga Begal Estetika


Sebagai pengguna sepeda motor yang hampir tiap hari menerjang keramaian jalan raya, saya selalu bertemu dengan orang yang uring-uringan dan merasa dirinya paling benar. Beberapa diantara yang saya temui bahkan sempat bersinggungan dengan saya.

Pernah ketika saya menurunkan kecepatan untuk memberi kesempatan penyebrang jalan, saya malah dimarahi pengendara lain dari belakang. Di jalanan, saya sering menengok ke spion untuk ngecek keberadaan pengendara lain. Yang saya lihat kala itu sebenarnya si pengendara berjarak sangat jauh meski saya tahu kecepatannya memang tinggi. Namun, jika sesuai hukum fisika yang dibungkus peri kemanusiaan, sangat bisa si pengendara berhenti disamping saya. Bukannya decit rem yang saya dengar, malah kata “ASU!” yang tumpah dari mulutnya.

Saya jadi bingung. Dia ini teriak “ASU” gitu maksudnya mengenalkan diri ya? Seperti “aku asu, kowe minggiro” gitu apa gimana?

Bahkan, bapak saya yang sudah berkeriput dan kaki tak mampu menopang langkah pun sering kena marah. Pernah saat itu bapak mengantar ke PKU karena saya sakit darurat. Karena bapak sudah tua, kecakapan bermotornya pun memburuk. Di jalanan bapak saya telat ngerem, lalu nyenggol ban belakang pengendara lain. Melihat bapak saya yang beruban dan saya yang pucat, ternyata tidak meluluhkan hati si pakdhe-pakdhe yang ban motornya disenggol bapak saya itu.

“Piye tho, Pak? Matane i ning ndi?”, begitulah kata yang terucap.

Padahal jika dilihat pakai teleskop apa pakai pipa comberan, si pakdhe itu juga tidak merugi apapun. Wong nyenggolnya itu kayak nyubit gemes pipi pacar. Tidak ada yang rusak atau tergores sedikit pun lho. Tapi pakdhe itu tetap bersikeras menyalahkan bapak saya. Sungguh perlawanan yang sangat norak. Che Guevara kalau tahu dengan pakdhe ini, malu dia.

Di jalan raya, banyak yang merasa seperti tokoh Cinderella. Karakter yang benar, berbudi pekerti luhur namun jadi korban orang-orang dzolim. Sudah berapa banyak orang yang menyalahi aturan kecepatan, melanggar marka jalan, menerobos lampu merah, tapi kalau ditegur pasti merasa dirinya tetap benar. Seolah kesalahan yang ia lakukan tidak layak dipermasalahkan. Sebuah sikap yang seasu-asunya sikap.

Memang harus diakui, ada cara pandang yang sangat keliru di masyarakat kita. Berulangkali saya dinasehati sama teman atau bahkan orangtua, yang bilang kalau kena singgungan di jalan jangan ngaku salah, nanti bisa disuruh ganti rugi. Ini lucu sekaligus bikin sedih. Pernah suatu ketika saat saya hendak parkir depan rumah, tiba-tiba ada cewek yang nabrak saya dari belakang. Kesalahan saya saat itu adalah lampu sign belakang yang tidak menyala karena memang lagi rusak. Saya tidak mengalami luka apapun, motor saya juga baik-baik saja. Tapi cewek yang menabrak saya mengalami luka lebam dan lecet.

Saat menepi didepan rumah saya, si cewek lekas melepas earphone yang menancap di daun telinganya. Seketika itulah bapak saya lekas menyalahkan si cewek dengan dalih mendengarkan lagu di jalan yang dipercaya bisa menghilangkan konsentrasi. Sedangkan si cewek sesenggukan menahan sakit dan rasa takut karena ia terlambat masuk kerja. Lalu saya dan cewek itu berdiskusi sebentar untuk memutuskan ‘enaknya gimana’.

Waktu itu saya mengantar si cewek pulang ke rumahnya dengan naik sepeda motor kami masing-masing secara beriringan. Sampai di rumahnya saya melapor ke ibunya kalau kami bersinggungan di jalan. Lalu kami segera ke klinik kesehatan dekat situ untuk mengobati cewek yang sampai sekarang aku tak tahu siapa namanya. Saat menunggu si cewek periksa, saya dapat sms dari ibu saya. Beliau memarahi saya karena mengantar si cewek itu pulang, sebab saya bakal disalahkan sama keluarganya. Benar saja, biaya pengobatan ternyata saya yang nanggung. Bahkan saya ditanya sama neneknya si cewek ‘nabrakmu lak ora banter tho, mas?’.

Saya mengantar cewek itu pulang bukan karena saya merasa bertanggungjawab atas musibah yang menimpanya. Namun karena rasa kemanusiaan saja. Katanya negeri ini menganut kemanusiaan yang adil dan beradab? Namun apa yang saya lakukan disalahartikan oleh semua kalangan. Niatnya mbantu, malah dianggap salah. Didikan orde baru yang mendarah daging sepertinya.

Beberapa tahun belakangan ini saya mencoba untuk menjadi pengendara yang legowo. Seperti mempersilakan penyebrang, membiarkan pengendara yang ingin menerabas jalan, dan terutama memberi jalan bagi pengendara berisik baik suara kalpot maupun klaksonnya.

Perihal klakson juga jadi titik bajingan tersendiri bagi saya. Saya nggak ngerti dengan mereka yang menyuarakan klakson di momen yang nggak penting. Seperti ditengah kemacetan, tiba-tiba suara klakson berteriak kencang dengan interval panjang. Dora dan para penontonnya pun tahu kalau tidak ada kendaraan yang bisa bergerak di kemacetan itu. Ada juga yang saya temui saat jalan benar-benar sepi. Hanya ada beberapa gelintir pengendara. Tapi ada satu pengendara dengan kecepatan biasa saja yang nyalain klakson tiap 5 detik sekali. ITU APA MAKSUDNYA?

Sejak saya muak dengan suara klakson yang tidak ergonomis itu, saya memutuskan untuk berhenti memencet klakson. Serius. Saya rasa memencet klakson itu buang-buang waktu. Lebih baik fokus memperhatikan jalan, menganalisa gerakan pengendara lain, lalu berkendara dengan anggun.

Memang tidak semua pengendara dalam keadaan yang santai seperti saya. Ada yang buru-buru mengejar urusannya yang belum selesai. Hal itu tentu wajar dan saya cukup legowo memberi mereka jatah jalan. Tapi jika ada yang ngebut sekaligus berklakson-klakson hanya untuk sekedar ‘duluan’ itu sungguh kelakuan biadab. Mereka itulah begal estetika di jalanan.

Selain pengendara mental Cinderella dan titisan Mas Boy yang demen ngebut dan nglakson, ada lagi pembegal estetika jalanan yang cukup dikenal di kota saya. Yaitu kendaraaan plat B. Banyak saksi yang mengatakan jika kendaraan plat B menganut paham abstraksionisme dalam memilih jalan. Jalur lambat, tancap gas. Marka jalan, terabas. Lampu merah, bablas. Trotoar, libas. Kendaraan plat B ini seperti hukum kapilaritas, bisa meresap melalui celah-celah kecil.

Keputusan yang diambil oleh sopir plat B benar-benar sulit diterka dan beresiko. Mereka bisa nekat menerabas kendaraan lain padahal di depan tidak tersedia ruang. Secara matematis sih seharusnya gak bisa nyungsep di tengah-tengah dua kendaraan roda empat, tapi mereka bisa! Heran benar-benar heran. Mereka berani mengambil keputusan yang tidak tahu aman atau tidak kedepannya. Saya yakin sopir plat B ini dibekali mata byakugan dan lolos seleksi lomba tawakal tingkat internasional.

Segala keriuhan dan kebisingan di jalanan memang seringkali bikin amarah meluap-luap. Tapi disitulah tantangannya. Asyiknya berkendara bukan diukur dari berhasil tidaknya kita menakhlukkan jalan, tapi menakhlukkan diri sendiri. Memberi porsi jalan pada orang lain dan tidak mencemari indera pendengaran dengan klakson-klakson tak penting. Hal-hal sederhana itulah yang membuat saya tetap waras sebagai pengendara. Mari kita lawan para pembegal estetika jalanan dengan kebijaksaan dalam berkendara. "Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil dan mulai saat ini juga" -by AA Gym feat. Haikal AFI-.

Jadi, gaya berkendara macam apa yang biasa kamu lakukan?

Image source: https://i.ytimg.com

Cheng Sew Club Kembali Ke Desa Tompegunung



Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas. Kira-kira ungkapan Eka Kurniawan itulah yang tepat untuk memotivasi kami bertujuh mengunjungi desa Tompegunung. Desa Tompegunung adalah tempat dimana saya dan kawan-kawan dulu pernah menjalankan program KKN. Desa ini letaknya tersembunyi dari keramaian kabupaten Pati. Perlu keteguhan, kesabaran, tekad dan motor tahan banting untuk bisa sampai di sini.

Sabtu, 13 Agustus 2016 adalah hari yang kami pilih untuk merajut kenangan di desa Tompe. Rencana awal kami berangkat dari Solo pukul enam pagi. Namanya juga manusia berencana, Tuhan menentukan. Sejak subuh hingga setengah waktu dhuha, kota Solo sudah diguyur hujan deras. Kami baru memulai perjalan sekitar pukul sembilan. Sebuah pagi yang sangat terlambat untuk menempuh perjalanan melawan truk dan bus.

Pegal dan deg-degan, rasanya seperti menempuh ujian nasional soal fisika padahal dua tahun jadi anak IPS, kira-kira begitu yang saya rasakan ketika melaju menuju desa Tompe. Di tengah jalan, saya sempat terpisah dari rombongan karena salah belok. Namanya juga manusia rapuh, salah itu sudah biasa. Wong sudah tau yang ditaksir punya pacar, tapi tetep memendam rasa kangen gitu juga ada kok. Apalagi kalau urusan salah ambil jalan, harap maklum saja. Meski demikian, tekad yang sudah bulat membawa seluruh raga ini sampai di lokasi dengan selamat. Say something, gaes!! Alhamdulillah.

Matahari semakin gagah menunjukkan siangnya. Kami mulai masuk ke kawasan desa Tompe sekitar pukul setengah duabelas. Tanpa basa-basi kami langsung menuju rumah kontrakan yang dulu pernah dipakai jadi gubuk derita anak KKN. Rumah itu ternyata tidak pernah ditempati sejak kami meninggalkannya. Kami menemukan barang-barang kenangan yang masih tertinggal di sana, jadwal piket misalnya. 


 

Baru istirahat sebentar, kami bertujuh diundang ke rumah Pak Wo untuk menyantap makan siang. Pak Wo ini nama aslinya Hartiyo. Beliau adalah seorang Kamituwo, yaitu sebutan untuk orang yang menguasai desa macam hokage. Panggilan keagungannya ya Pak Wo (kamituwo) gitu gaes. Nah, sebagai generasi penerus bangsa yang passion-nya di bidang kuliner gratisan, kami tentu saja antusias menyanggupi undangan Pak Wo.

Hidangan sederhana macam nasi sayur dan tempe, kami santap penuh percaya diri. Obrolan hangat dan sedikit malu-malu tentu menghiasi meja hidangan kami. Kenikmatan macam apalagi yang akan didustakan selain memadukan kenangan dan makan gratis? Sejenak, saya lupa kalau kuliah belum selesai, cita-cita belum tergapai dan gebetan belum terbuai.

Aktivitas kami di desa Tompe saat itu terbilang biasa, sederhana dan gaje beud. Usai makan siang, kami jalan-jalan menyusuri sudut-sudut desa yang menyegarkan. Lalu rehat di beberapa tempat memorable seperti balai desa, gedung SD dan tokonya mbak Rini. Bak artis, anak-anak kecil menyapa kami dengan riang gembira. “KKN...KKN...KKN...” begitulah kiranya sebutan yang disematkan pada kami. Saya curgia, mereka mungkin ngira KKN itu Koplo-Koplo Nyoss, macam oposisi biner dari Big Bang atau Suju gitu. 


 

Pencarian jejak-jejak kenangan yang kami lakukan ini sebenarnya nanggung sekali. Karena tidak banyak waktu yang kami miliki untuk bercengkrama dengan warga. Tapi sisi baiknya, keterbatasan waktu itu mencegah timbunan lemak dalam tubuh kami. Bagaimana tidak? Setiap rumah selalu menawarkan nasi sebagai hidangannya. Eh, bukan menawarkan. Tapi memaksa. Awalnya, kami bahagia-bahagia saja mendapat makan gratis. Eh, gak taunya semua warga nawari makanan gratis, nasi pula. Nggak kuat perut ini gaees.

Menyederhanakan kebisingan kota dengan udara segar di desa Tompe sepertinya sebuah keputusan yang tepat bagi kami pada waktu itu. Ketenangan dan atmosfer kerinduan bercumbu dalam kalbu yang menjadikan setiap detik masa lampau terasa begitu cepat. Mau bagaimana lagi? Satu-satunya hal paling jauh dari manusia adalah hari kemarin. Hari kemarin tidak akan bisa berulang, Tuhan hanya mengijinkan kita mengenang. Bukankah sayang juga begitu? Kalau sudah kandas ya kandas saja. Mengharap balen itu fana. Ini saya malah ngomongin apa. Fak! Efek tiba-tiba playlist muter lagunya Vagetoz feat Baby Margaretha nih.

Namun, dalam mengenang pasti muncul kegentiran. Seperti saat kami diburu waktu untuk segera pulang sebelum matahari pindah di belahan bumi yang lain. Pukul lima sore kami baru beranjak dari desa Tompe. Mau tidak mau kami harus melewati jalanan berhutan tanpa lampu penerangan. Namanya juga menjemput rindu, pasti ada titik gelap yang harus dilalui. Perlu kehati-hatian dan olah pedal yang tangkas untuk bisa melewati jalan kampret markumpret itu.

Ada beberapa momen berbahaya yang tidak bisa saya tuliskan detail kejadiannya satu per satu. Apa yang kamu harapkan gaes? Saya bukan Dr. Watson. Sisi baiknya, semua kegetiran itu berakhir dengan keselamatan bagi kami semua. Selamat fisik dan batin. Hanya menyisakan sedikit rasa pegal di bagian leher, punggung, pantat dan kesemutan di bagian itu. You know laah.

Semua yang kami lakukan pada hari itu merupakan cara sederhana beranjak dari kebisingan aktivitas sehari-hari. Dalam menjalani rutinitas, muak dan jengah itu sudah pasti kita rasakan. Maka dari itu, kita perlu mengatasi diri sendiri. Dengan cara-cara sederhana tapi tidak biasa. Melakukan hal baru, mengunjungi tempat baru atau sekedar meniti masa lalu juga boleh-boleh saja. Jangan sampai kita terjerembab dalam jeratan karoshi (fenomena di Jepang: kematian karena sibuk bekerja).

Daripada setres memikirkan yang belum tentu terjadi. Mencemaskan yang belum pasti. Lebih baik kita ena ena bersama. Cemas nggak cemas hari senin tetap saja tiba. Ayo beranjak dari kekhawatiran esok hari. Berliburlah! Ena ena!!
Cheng Sew Club adalah nama yang saya buat-buat sendiri. Asal kata dari Cengkal Sewu, tempat dimana kami suka makan Nasi Gandul (makanan khas Pati). Kemudian teman saya ada yang mengajak makan dengan celetukan "Yuk, Cheng Sew!!".

Membalut Perbedaan Dengan Mesra Dalam Cinta

Mesra Dalam Cinta karya Ari Wuryanto (Cat Acrylic di atas Kanvas / 80x120cm / Tahun 2016)

Meski saya termasuk antisosial, bukan lantas saya tidak memiliki teman sama sekali. Pribadi introvert membuat saya memilih dan memilah lingkungan pertemanan dengan teliti. Bukan bermaksud diskriminatif, hanya saja secara alami insting sosial saya yang menentukan mana teman yang cocok dan mana yang tidak cocok. Tanpa disadari saya membuat lingkaran pertemanan yang sangat ekseklusif.

Saya tidak memusuhi mereka yang tidak cocok dengan saya. Di dunia nyata, saya masih menganggap mereka teman. Sedangkan di dunia maya ada beberapa (banyak malahan) yang tidak saya follow bahkan berakhir unfollow dan block pun ada. Mau bagaimana lagi, kalau kita tidak suka dengan konten yang dibagikan teman kita sendiri di sosial media kan ya halal-halal saja kalau di-unfollow atau unfriend. Bukan berarti ngajak ribut, toh di dunia nyata kita tetap berteman.

Di samping itu, teman yang menurut saya cocok adalah mereka yang kalau ngobrol bisa nyambung. Meski berbeda-beda karakter dan latar belakang, tapi ada satu benang merah yang bisa menyambungkan saya dan teman saya itu, yaitu kesamaan referensi. Melalui referensi yang sama itulah, bahan perbincangan akan terasa menyengangkan dan semakin mengakrabkan. Hingga kemudian semakin bertambah umur kita, semakin banyak teman kita, maka semakin terseleksi mana teman yang benar-benar selalu bersama. Kehadiran teman-teman yang selalu bersama ini secara alami membentuk semacam regu atau genk. Biasanya mereka menamai regu itu untuk menguatkan ekseklusifitas pertemanan, seperti Genk Srigala, Persaudarian Lipstik Tebal, maupun BBY (Bang Bayik Club). Eratnya pertemanan semacam itulah yang mengilhami Ari Wuryanto dalam menghasilkan karya lukis berjudul Mesra Dalam Cinta.
Lukisan Mesra Dalam Cinta merupakan salah satu karya dalam acara Kompetisi Karya Mahasiswa FSRD ISI Surakarta yang diadakan di Balai Soedjatmoko Solo pada bulan Agustus 2016.

Dalam lukisan Mesra Dalam Cinta, kita melihat empat figur imajiner yang divisualkan secara apik oleh Wuryanto. Keempat figur ini terikat dengan benang-benang yang melilit di seluruh tubuh mereka. Bahkan sudah seperti bagian dari tubuh itu sendiri. Satu sama lain saling mengikat seolah hendak menyatukan keempat tubuh mereka.

Dokumen pribadi
Figur imajiner dalam lukisan ini bisa kita telisik lebih jauh. Sosok paling kiri digambarkan memiliki wajah berupa bongkahan mesin atau komponen mekanik. Hal-hal yang berhubungan dengan mesin seringkali menyimbolkan kemajuan jaman. Kita lihat bagaimana revolusi industri di Inggris telah merubah tatanan kerja di masyarakat yang semula ditangani secara manual lalu diambil alih oleh tenaga-tenaga mesin. Temuan James Watt, Richard Arkwright hingga Henry Cort pada masa itu membuka gerbang peradaban manusia menuju masa depan yang berteknologi. Sejak saat itu mesin (teknologi) dipercaya sebagai penghubung antara manusia, peradaban dan masa depan. Sehingga orang-orang yang menguasai ilmu teknologi adalah orang yang memiliki kesempatan membawa peradaban manusia ke masa depan. Untuk menguasai teknologi ini tidak lah mudah. Tidak serta merta semua orang bisa. Perlu poses yang panjang dan berat dalam mempelajarinya. Maka dari itu, masyarakat kita melabeli orang-orang ini dengan istilah pintar, cerdas dan jenius. Simpulan yang bisa kita ambil bahwa simbol mesin pada wajah figur imajiner yang pertama menggambarkan orang yang pintar atau berilmu.

Figur imajiner kedua adalah wajah tanpa rupa. Ketanparupaan ini divisualkan dengan warna hitam yang dibuat seolah ada ruang kosong di sana. Ruang kosong yang digambarkan membentuk seperti mulut gua atau lorong yang dalam. Simbol ruang kosong dapat berarti kehampaan, kesendirian atau keterasingan. Namun jika mengambil oposisi biner dari figur imajiner yang pertama (si pintar), maka figur kedua ini lebih tepat menggambarkan sosok orang yang bodoh (pikiran yang kosong).

Dokumen pribadi
Figur imajiner berikutnya adalah sosok wajah yang menggambarkan bunga dan langit cerah. Bunga di sini menyiratkan simbol kehidupan. Dan langit konotasi dari impian, yaitu tempat yang ingin dituju namun sulit diraih. Kehidupan dan impian berjalan seperti Yin dan Yang. Keduanya harus selaras untuk bisa mendapatkan makna hidup yang menyenangkan. Apa artinya kehidupan tanpa impian? Apa artinya impian jika tidak hidup, bukan? Dalam figur imajiner tersebut kita dapat melihat beberapa tangkai bunga menjulang ke atas seolah ingin meroket menuju langit. Sebuah simbol yang tepat untuk menggambarkan pribadi yang enerjik, ambisius dan riang (ceria) yang terwakili oleh warna-warna cerah.

Figur imajiner terakhir adalah yang paling menarik menurut saya. Dalam figur tersebut kita diajak Wuryanto untuk melihat kehidupan di bawah laut. Meski terdapat banyak jenis spesies di bawah laut, namun keputusan untuk memasukkan karakter paus adalah pilihan yang cerdas. Saya pribadi melihat paus hanya melalui media film. Di dalam film, paus dicitrakan sebagai binatang yang besar, perkasa dan bergerak sangat lambat (kecuali paus versi Bikini Buttom). Biasanya ketika scene yang menunjukkan alam bawah laut lengkap dengan pausnya, suasana menjadi tenang dan misterius. Seolah ada suatu kekuatan besar di bawah laut yang tidak bisa ditakhlukkan oleh manusia. Maka dari itu, figur imajiner keempat adalah simbol dari manusia yang relijius.

Keempat figur imajiner tersebut merupakan latar belakang manusia yang berbeda-beda. Ada si Pintar, si Bodoh, si Enerjik dan si Relijius. Meski dari latar belakang dan karakteristik yang berbeda, namun mereka senantiasa menjalin hubungan pertemanan yang erat. Begitulah fenomena sosial yang ditangkap Wuryanto dalam kehidupan manusia. Kita pasti menemui atau bahkan menjadi bagian dari suatu kelompok kecil yang menjadikan pertemanan sebagai penguat sebuah hubungan.

Menyingkirkan setiap perbedaan dan fokus pada persamaan akan membawa kita pada jalinan pertemanan yang sehat. Bukankah setiap perselisihan yang terjadi diawali oleh sebuah perbedaan? Entah perbedaan pendapat, perbedaan budaya maupun perbedaan agama. Coba lihat bagaimana Soviet hancur ketika setiap kelompok masyarakat mulai dibagi dalam suku-suku. Seorang antropolog yang meneliti kelompok masyarakat di Soviet telah memberi label beberapa suku, seperti suku Kirgiz, suku Uzbek, suku Tajik, suku Afghan dan lain-lain. Mereka dikotakkan dalam beragam perbedaan mulai dari bentuk fisik, budaya dan keyakinan. Semakin fokus pada perbedaan akhirnya membuat masing-masing suku membangun negaranya sendiri. Kita mengenal dengan Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan dan negara stan-stan lainnya. Meski bertetangga, kehidupan tiap negara tersebut kontras sekali. Ada yang memiliki fasilitas perkotaan yang bagus, ada yang miskin, ada yang terisolir dari dunia luar, bahkan ada yang masih dalam situasi perang.

Setiap hari kita selalu dikelilingi oleh perbedaan. Bahkan dengan kekasih yang mengaku cinta sehidup semati pun pada akhirnya berdebat saat menentukan mau pakai kuah mie instan dari air bekas rebusan atau masak air baru. Tidak bijak jika kita menghendaki segela sesuatu harus sesuai dengan apa yang kita tahu dan kita mau. Karena modal dari kehiduapan bersosial adalah memaklumi perbedaan, bukan memaksa perbedaan menjadi sama.

"Ealah.. Cah antisosial kok sok-sokan ngomongin kehidupan bersosial. Hahahaha."

Saya kira cukup sekian review karya lukis dari Ari Wuryanto. Meski saya tidak bisa melukis, tapi saya selalu kagum dengan imajinasi dan ketekunan para pelukis. Saya selalu tertarik dengan kisah yang tertuang di atas kanvas. Terutama lukisan surealis yang seolah mengajak saya berjalan-jalan ke alam lain, jauh dari dunia eksak yang gini-gini aja. Terima kasih kepada para pembaca yang telah menyimak ulasan sederhana ini. Semoga berkenan. Sampai jumpa di tulisan saya yang lain. Salam.

Menarik Diri Dan Memaafkan

Tidak butuh waktu lama bagi seseorang untuk membenci sesuatu. Entah peristiwa tertentu, situasi tertentu atau terhadap orang-orang tertentu. Sebaik apapun budi pekertimu, saya yakin ada masa di mana kamu akan membenci sangat dalam. Kebencian sering dibicarakan sebagai sumber perselisihan, sengketa, bahkan berdampak kerusuhan dan kehancuran. Bisa jadi. Tapi banyak juga benci-benci yang tak terluapkan. Terkubur dan menunggu beberapa masa untuk mengurai semua hingga kemudian lenyap tanpa sisa.

Ini adalah saat yang tepat untuk menarik diri dari situasi yang membencikan. Ketika seseorang atau beberapa orang memicu sensor kebencian, ketika itu pula upaya defensif akan ter-ON-kan secara otomatis. Bisa saja melalui penyangkalan atau pembelaan. Namun saya selalu punya alternatif, saya memilih menghindar. Pengecut? Mungkin.

Menarik diri dari sumber kebencian sama saja menarik diri dari akar permasalahan. Banyak orang akan selalu berkoar-koar bahwa masalah ada untuk diselesaikan. Saya tidak selalu setuju, karena seringkali ditemui masalah-masalah yang terlalu fana untuk menyita perhatian saya. Saya memilih menghindar, menjauh dari kerumunan dan membiarkan masalah terkikis oleh jaman.

Dalam fase penarikan diri saya akan mengerjakan sesuatu yang lebih berarti. Karena mengutuk dan meratapi tidak akan pernah meredam benci. Saya akan hilang dan kembali. Seperti petak umpet yang tak lagi asyik untuk dimainkan, saya memilih pulang.

Selain mengerjakan hal lain adapula yang lebih penting. Yaitu meredam amarah dengan guyuran pemaafan yang dingin. Kebencian yang membara terlalu sesak dan panas untuk terus disimpan. Jadi alangkah logisnya jika sumber panas itu dimatikan dengan air dingin, yang saya maksud adalah pemaafan.

Pemaafan tak selalu verbal. Bahkan yang dimaafkan juga tak selalu harus tahu. Sebab kadang yang berbuat salah juga tidak merasa bersalah lho. Yang jelas jika masanya tiba untuk kembali bertemu maka emosi yang dulu tersulut sudah selayaknya ditinggalkan dan kembali berkawan. Karena kebencian juga menjadi terlalu fana untuk terus dipikirkan.

Saya tidak tahu apakah ini langkah bijak atau pengecut seperti yang saya bilang di awal. Saya merasa jika ada yang berbuat tidak menyenangkan pada saya mungkin karena saya melakukan perbuatan tidak menyenangkan pula pada orang lain. Jadi harus legowo sejak dalam pikiran. Memaafkan dan melupakan masa lalu. Tapi sebelumnya menjauh dulu dari sumber masalahnya, menjauh dari biangkeroknya. Menarik diri dan memaafkan sejauh ini adalah cara terbaik untuk meredam kebencian.

Intinya, pasti kita akan bertemu dengan orang yang membuat kita marah. Namun membalasnya dengan cara membuatnya marah balik adalah respon alay yang superduper alay untuk dilakukan. Ini bukan tentang membuktikan siapa yang benar dan siapa yang menang. Ini tentang membuktikan seberapa tangguh kita menahklukkan diri sendiri.

Sebelum menyalahkan orang lain, bukankah harus tahu dulu apa benar orang itu salah atau hanya ego kita yang menghendaki orang itu salah. Sebelum terpancing oleh emosi yang menjadikan masalah semakin runyam, tak ada kelirunya jika mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu. Dalam mengoreksi diri, kadang kita menemukan space yang melegakan. Space di mana bersenyaman jiwa besar dan kebijaksanaan untuk menyikapi sesuatu dengan benar menurut semesta, bukan ego.

Ah sudalah. Toh ujung-ujungnya akan balik lagi pada ungkapan “kembali pada orangnya, kalau si A bla bla bla ya dia bakal bla bla bla bla”. Mboyak!

Huft, tulisan ini begitu buruk ya. Tapi ada yang lebih buruk. Yaitu tidak menulis.

Terima kasih sudah membaca susunan huruf-huruf ini. Maaf jika saya mengecewakan. Saya sedang kalut. Mungkin sudah saatnya ada yang meluk. Tapi tapi jangan kamu, Mbang!
 
Source pict: linkedin.com

Sayat-Sayat Musik Dalam Film John Carney



Belakangan ini saya nonton tiga film buatan John Carney, yaitu Once (2006), Begin Again (2013) dan Sing Street (2016). Hebatnya, ketiga film tersebut berhasil meluluhkan hati saya hingga memasukkan nama John Carney sebagai sutradara favorit di antara Steven Spielberg dan Chris Nolan. Tidak seperti kedua sutradara yang saya sebut di atas, John Carney meracik karyanya tanpa cerita rumit dan plot twist serius. Saya rasa Carney ini spesialis film yang melibatkan musik sebagai mainannya.

Sebut saja film Once. Once bercerita tentang seorang pria patah hati yang menghabiskan waktunya dengan mengamen di jalanan sekaligus membantu ayahnya bekerja di servisan vacum cleaner. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan penjual bunga. Hari demi hari mereka selalu bertemu dan langsung klop begitu saja ketika membicarakan musik. Melalui percakapan itu pula akhirnya diketahui si perempuan tersebut ahli bermain piano. Keduanya pun mencoba untuk menggabungkan musik yang selama ini mereka mainkan sendiri-sendiri. 

Screenshoot film Once
Merasa ada kecocokan dengan musik yang saling meleburkan itu, mereka bersepakat untuk mengabadikan musik mereka melalui rekaman. Musisi jalanan pun turut mereka rekrut untuk mengisi bagian nada yang kurang. Keseruan membentuk band dan perjalanan dalam proses rekaman ini berhasil dibungkus dengan apik oleh John Carney.

Saya sendiri sampai sekarang masih tidak bisa menentukan film Once ini sebenarnya sedih atau bahagia. Kekuatan utama dari film ini adalah lagu-lagu yang touchable. Serius, semua lagunya ngena banget. Emosi ketika lagu mulai dilantunkan benar-benar sampai di perasaan saya sebagai penonton.

Lagu patah hati dengan lirik “And I, I can’t keep with you. Maybe if you slowed down for me. I could see you’re only telling... Lies, lies, lies. Breaking us down with your lies, lies, lies. When will you learn?” menjadi favorite scene bagi saya. Bahkan saat scene di studio rekaman, pada lirik “ooooo...waaaaaa......” diiringi lantunan musik yang biadab saja sudah cukup terampil mengaduk-aduk kantung mata saya, serasa ingin menumpahkan semua masa lalu yang perih dan sedikit gurih.

Kesederhanaan Once sayangnya agak lenyap di dalam film Begin Again. Begin Again terkesan lebih pop. Apalagi jika kita melihat Adam Levine turut memeriahkan rentetan cast. Begin Again lebih baik dari segi visual dan kompleksitas cerita. Namun, porsi musik sedikit tenggelam oleh drama cinta.

John Carney kembali mengangkat tema patah hati sebagai tulang punggung Begin Again. Kedua tokoh yang sama-sama mengalami depresi dipertemukan oleh musik. Saya jadi ingat dengan pemikiran teman saya yang beropini kalau setiap orang memiliki bilangannya masing-masing. Dan suatu saat bakal bertemu dengan bilangan lain yang klop. Misal, saya memiliki bilangan 6. Suatu saat saya bertemu dengan orang bilangan 4. Lalu kami ngobrol dan tiba-tiba merasa klop. Penjumlahan dari 6 dan 4 adalah 10, anggap saja 10 adalah bilangan klopnya. Semakin jauh dari angka 10, semakin tidak cocoklah kita denngan orang lain. Saya beberapa kali bertemu dengan orang yang baru kenal, chit-chat, lalu merasa nyambung gitu aja. Ada juga yang sudah lama kenal tapi tidak pernah bisa akrab. Mungkin jika saya bilangan 6, dia ada di bilangan 1.

Kira-kira begitulah rumusnya kenapa Gretta (Keira Knightley) dan Dan (Mark Ruffalo) bisa langsung akrab di malam saat mereka pertama bertemu. Rumusan ini tidak harus hubungan pria dan wanita, toh Gretta juga langsung klop dengan anak tunggalnya Dan, Violet (Hailee Steinfeld). Padahal Violet ini anti sosial. Sama bapaknya sendiri saja tidak akrab kok. 
Aseli ini scene kesukaan dah!! (Source: telegraph.co.uk)
Gretta adalah musisi bayangan dibalik suksesnya Dave (Adam Levine). Semacam pacar yang sama-sama berjuang meraih sukses gitu. Malangnya, Dave berselingkuh. Seganteng-gantengnya Adam Levine, pas main film akhirnya jadi berengsek juga. Ditengah kepatahhatian itulah, Gretta bertemu dengan seorang pencari bakat musik bernama Dan. Jika bicara soal musik, Dan tak pernah main-main, keras kepala dan idealis. Label yang kesulitan dengan idealisme Dan akhirnya memecatnya. Uniknya, Dan bertemu dengan Gretta tepat setelah ia dipecat dan juga tepat saat Gretta putus. Apa yang terjadi dengan mantan tentor musik yang bertemu dengan musisi berbakat bisa kamu saksikan dalam film Begin Again.

Masih membawa aura yang sama, John Carney melahirkan karya terbarunya berjudul Sing Street. Sing Street menjadikan Dublin sebagai set lokasi dalam film sebagaimana Once. Kesan tenang dan haru berhasil hidup dari musik dan sudut-sudut kota yang mendukung.

Meski demikian keberengsekan film Once tetap tak terbantahkan. Sajian cerita yang diolah dalam film Sing Street tidak beda jauh dari Begin Again. Entah perasaan saya saja, atau memang porsi dramanya terlalu bertele-tele. Sedangkan porsi drama Once sangat singkat dan lugas. Review Sing Street sudah pernah saya tulis di sini.

Selain ketiga film yang saya bicarakan dalam tulisan ini, Carney juga membuat berbagai film lain. Sampai saat ini saya masih memburunya. Sebenarnya ingin membuat tulisan utuh setelah menyaksikan semua film Carney tapi tangan dan pikiran sudah tidak sanggup menahan nafsu nulis. Jika kamu menyukai musik seperti kamu menyukai gebetan yang bertepuk sebelah tangan, berarti kamu bakal suka dengan film Carney.

Cukup sekian yang bisa saya tulis. Terimakasih sudah berkenan mampir. Oiya, jika kamu punya saran film yang berkaitan dengan musik selain film-film di atas, bisa tulis judulnya di kolom komentar ya. Saya tunggu.. 
"You know, I wasn't trying to win you over. I was telling you to fuck off." (Gretta)
Source pict: irishtimes.com

Sing Street: Memutuskan Keputusasaan


Rilis pada tahun 2016, Sing Street memberi penyegaran bagi penonton film yang sebelumnya dimanja oleh film superheroes. Sing Street merupakan film racikan John Carney, yang dikenal sebagai seorang sutradara, penulis sekaligus komposer. Carney menjadikan tanah kelahirannya, Dublin (Irlandia), sebagai set dalam semesta film Sing Street itu sendiri. Dengan menguasai materi secara menyeluruh, Carney berhasil mendapat score bagus dari IMBD 8.1 dan Metascore 79 untuk Sing Street.

Sing Street bercerita tentang seorang remaja bernama Conor Lawlor (a.k.a Cosmo) yang mengalami berbagai tekanan, baik dari keluarga maupun lingkungan sekolahnya. Orangtua Conor mengalami kebangkrutan dari sektor ekonomi dan asmara. Ibunya yang diketahui selingkuh membuat suasana malam sering diramaikan oleh pertengkaran. Untung saja Conor memiliki kakak yang woles, Brendan Lawlor. Melalui Brendan inilah Conor mengenal dan mempelajari musik lengkap dengan falsafahnya.

Conor terpaksa belajar di sekolah baru demi menghemat biaya. Sayangnya, sekolah barunya ini semacam padepokan anak-anak badung. Sebagai murid baru yang terlihat lemah, Conor sudah pasti menjadi sasaran empuk para bullyers. Alih-alih mendapat perlindungan dari komite sekolah, Brother Bexter (Kepala Sekolah) pun turut serta memberi tekanan mental untuk Conor.

Di antara beragam tekanan yang Conor alami, beruntung lah ia bertemu dengan seorang perempuan yang tinggal tepat di seberang gerbang sekolah, Raphina. Perkenalan singkat yang penuh basa-basi absurd itu ternyata memberi dampak besar bagi kehidupan mereka berdua. Conor yang merasa hidupnya tak menarik berubah menjadi penuh gairah. Demikian juga dengan Raphina yang stuck dengan impiannya berubah lebih bersemangat dari sebelumnya.

Conor membuat kelompok band bernama ‘Sing Street’ demi mengesankan Raphina. Dari sini kita bisa melihat serunya membangun grup band, mulai dari perekrutan hingga rekaman. Bermacam kesalahan dan singgungan sudah pasti terjadi. Namun kuatnya cita akan menemukan jalannya.

Setiap babak yang disajikan dalam film ini merupakan representasi kehidupan yang sangat mudah dipahami. Seperti keputusan Conor untuk tampil idealis dengan rias wajah macam rock and roll ke sekolah. Teriakan ‘banci’ dan ejekan lain yang ditujukan untuknya dengan mudah ia acuhkan. Sayangnya, ditengah kuasa Brother Bexter lah idealisme Conor menguap bagai kuota telkomsel di antara YouTube dan insomnia.

Pertentangan yang paling menonjol dalam film ini bukanlah kontes musik macam Pitch Perfect. Melainkan pertentangan atas diri sendiri dalam mengambil setiap keputusan. Bukankah kita juga sering begitu, merasa ragu di tengah pilihan dalam hidup. Takut dengan akibat yang akan kita timbulkan jika salah mengambil keputusan. Ketakutan yang tidak bisa ditakhlukkan itu yang kemudian menjebak kita dalam zona nyaman. Masih mending sih kalau zona nyaman, parahnya lagi kalau terjebak di zona yang tidak kita sukai namun tak kuasa untuk beranjak dari sana.

Mencoba melawan intervensi yang terus menghantam, Conor menciptakan lagu-lagu sesuai dengan suasana hatinya. Besutan musik dari Eamon (gitaris) selalu memberi lantunan yang pas dengan semangat yang ingin dibawakan Conor dalam lagunya. Tak luput berkali-kali Brendan juga memberi arahan musik bagi Sing Street agar lagu yang diciptakan memiliki jiwa yang hidup di antara instrumen dan lirik. Lirik yang jujur dan musik bernas menjadi suara perlawanan baik itu melawan intervensi sekolah maupun melawan kemelut rasa cinta di pihak ketiga. #Eaaaaaa

Follow your dream adalah slogan yang tepat dalam film ini. Setiap orang pasti memiliki impian atau cita. Sebuah tujuan yang didambakan, diinginkan dan begitu dirindukan untuk dicapai. Sayangnya, tidak sedikit rintangan yang menghambat langkah kita untuk meraih sebuah impian. Masih mending hanya menghambat, beberapa diantara kita ada yang benar-benar terhenti dan merelakan impiannya menguap begitu saja.

Melalui Sing Street, saya memahami satu hal penting bahwa tidak semua orang yang mengejar passion itu bakal sukses mencapai impian. Lebih tepatnya tidak semua orang benar-benar sedang mengejar passion. Karena untuk ke arah sana perlu pengorbanan yang seringkali terlalu berat bagi sebagian orang. Dalam kasus ini, Conor berani melawan ketidakmungkinan yang mengekangnya. Dengan mempersetankan kepala sekolah dan keluarga yang retak, Conor menekuni dunia musiknya yang masih abu-abu.

Apakah yang dilakukan Conor mungkin kita tiru? Saya rasa sulit, sangat sulit. Bayangkan saja kamu benci dengan sekolah lalu memutuskan drop out demi mengejar passion-mu, misal ya bermusik itu. Pasti kamu takut dengan amarah orangtua, pertanyaan tak enak saudara dan cibiran tetangga. Belum lagi ketika keraguan muncul, misal kamu mulai membayangkan bagaimana jika kamu gagal. Tak ada ijasah yang bisa mem-backup di kemudian hari. Kurang takut apa lagi coba?

Itu juga masih dalam tingkat sekolah. Bahkan yang kuliah sekalipun sering juga terbentur tidak enak hati dengan keluarga. Lalu memaksakan diri menjadi mahasiswa meski hatinya di semesta yang berbeda. Ada beberapa mahasiswa yang bisa menjejali kehidupan kampusnya dengan upaya mengejar passion. Namun ada banyak yang pasrah membunuh impian-impiannya sendiri dan melakoni track kehidupan yang sudah ditentukan.

Membunuh impian itu sangat menyebalkan dan menyesakkan. Merasakan ketakberdayaan diri adalah prestasi paling memalukan dalam hidup. Saya iri dengan Conor yang sanggup memegang teguh tujuannya, mengejarnya, bahkan mempertaruhkan segalanya. Di samping itu, saya ini jenuh dengan motivasi follow your passion yang tidak aplikatif itu. Sebab tidak semua memiliki situasi yang memungkinkan untuk mengejar passion itu sendiri. Sah-sah saja bahkan bagus sekali jika kita mencoba untuk mengejar passion, asal harus siap dengan segala konsekuensi dan pertaruhan yang menanti.

Nilai-nilai kehidupan dalam film Sing Street inilah yang patut kita resapi lebih dalam. Hingga kemudian memunculkan beberapa pertanyaan seperti: Apa tujuan hidupku? Ke mana arah tujuan itu? Apa yang harus/ingin/bisa/suka aku lakukan untuk meraihnya? Apakah orang-orang di sekitar mendukungku? Apakah aku berjuang sendiri? Bagaimana aku melewati semua ini? Satu, dua atau lima tahun lagi aku akan seperti apa? Masih abu-abu kah atau mulai saat ini aku menggambarkannya?

Sing Street memang bagus untuk diseriusi. Namun, sebaiknya perlu sedikit rileks agar kejenakaan dalam film ini juga bisa dinikmati. Ada banyak sentilan-sentilan lucu yang nyelempit dalam dialog-dialongnya. Bagusnya, porsi lucu dan asmara diatur sedemikian pas hingga tidak mengaburkan esensi yang ditawarkan Sing Street. Dari yang saya paparkan di atas, sebenarnya masih ada nilai-nilai penting yang tidak bisa saya tuliskan semua.

Cukup sudah ocehan review saya tentang film Sing Street. Semoga ulasan saya mengenai Sing Street ini bermanfaat bagi kamu-kamu yang khusyuk membaca dari awal sampai kalimat ini. Jadi, kamu sudah nonton film ini belum? Yuk berbagi sudut pandang dengan berkomentar di bawah. Terima kasih sudah berkenan mampir. Sampai jumpa di tulisan saya yang lain. Caoo! 
 
Pict source: gannett-cnd.com

Curahan Hati Seorang Pertapa Skripsi



Tinggal menghintung hari saya akan punya adik tingkat lagi. Bukan apa-apa, hanya saja saya tidak ingin takabur kalau dianggap pertapa suci. Sebagai mahasiswa babak akhir yang tak segera diakhiri, saya sebenarnya sudah cukup lelah dengan keterkejutan muda-mudi maba (mahasiswa baru) ketika saya menyebut bilangan tak wajar dalam tingkatan semester.

Mereka yang bercita-cita menyelesaikan kuliah dalam delapan semester tentu terheran-heran mengetahui level studi saya jauh di atas itu. Daripada disebut terheran-heran, lebih tepatnya mereka ketakutan setengah mati kalau nasib mereka bakal seperti saya. Sebab, tidak jarang yang masuk jurusan saya itu muda-mudi salah jurusan. Sama-sama tahulah rasanya kuliah di jurusan yang tidak diinginkan dan akhirnya mencapai fase stuck tidak tahu mana ujungnya.

Bisa dibayangkan bagaimana muda-mudi maba dengan mata berbinar-binar menatap masa depan itu tiba-tiba saja syok melihat pertapa skripsi seperti saya. Seolah impian dan cita-cita indah mereka saya runtuhkan begitu saja. Pada tahap ini daripada disebut Grandmaster, saya kok malah jadi merasa seperti Valak ya.

Pengalaman saya sebagai pertapa skripsi cukup beragam. Saya sering dimintai wejangan oleh muda-mudi adik tingkat. Mulai dari tanya celah-celah dosen hingga bocoran tugas kuliah. Bahkan sesekali ada yang mengadu tatkala ac tidak nyala atau kunci ruangan ketlisut. Pengaduan yang terlalu asu untuk saya jawab itu kok ya kurang ajar tenan ya. Kalau nanti benar ada muda-mudi maba yang mengadu masalah listrik dan air ke saya, sudah pasti bakal tak kamehameha kavum orismu lho dek.

Tidak cukup dengan itu. Saya paling jengah kalau ada pertanyaan “kamu ngapain di sini, Mas?”. Sekilas kalimat tanya itu biasa saja, namun yang demikian memiliki makna yang sangat dalam bagi saya. Saya ini kan pertapa skripsi, tentu mahasiswa fana akan bingung kalau lihat saya keluar dari gua pertapaan. Pertanyaan yang seperti itu mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, saya harus kembali ke gua petapaan agar skripsi segera selesai. Dan kedua, saya sudah tidak artsy lagi untuk ongkang-angking di kampus atau sebut saja terlalu pakdhe-pakdhe!

Meski demikian, sebagai seorang pertapa tentu saya harus arif dan bijaksana menyikapi muda-mudi adik tingkat yang maha polos itu. Misalnya dengan tidak mengajarkan dunia pertapaan kepada mereka yang masih terlalu hijau. Jika mental mereka belum siap, jangankan menjadi pertapa, baru setengah jalan belajar jadi pendekar pun mereka pasti tumbang alias DO.

Kalau sedikit mengutip kata Sapardi sih lulus itu fana, yang abadi adalah skripsi. Yakin mau menapaki jejak ini? Huh!
Maka dari itu wahai muda-mudi mahasiswa baru yang saya sayangi. Jangan coba-coba menapaki jejak langkah saya menjadi seorang pertapa skripsi. Sebab jalan ini begitu terjal dan tidak jelas di mana ujungnya. Sebelum kamu tersesat sebaiknya percayalah pada wejangan saya. Jangan mudah tergiur menguasai ajian langit yang sekilas terlihat hebat. Pada kenyataannya kesempurnaan skripsi tidak sereceh kesempurnaan cinta. Segera selesaikan dan tak usah berlagak idealis pengen jadi sakti. Boro-boro jadi sakti, yang ada malah jadi sesak di hati.

Kampus adalah sebuah padepokan silat. Kamu bisa lulus dari sini dan menjadi pendekar (sarjana) hanya cukup dengan menuntaskan semua latihan dan ujian. Di akhir, kamu harus menciptakan sebuah jurus (skripsi). Jurus ini harus bagus dan kuat. Namun seringkali ada calon pendekar yang tergiur untuk memperdalam jurusnya bahkan menguasai ajian-ajian langit hingga menjadi seorang pertapa. Sebagai pendekar, kamu tidak perlu sampai menguasai ajian langit. Sebaiknya kamu segera selesaikan satu jurusmu saja. Jika ingin menjadi pertapa seperti saya ikutilah langkah yang benar dengan meneruskan kependekaran di jenjang berikutnya (S2).

Salam dari gua pertapaan. Doakan semoga jurus saya segera selesai.

Source pict: thegoodhuman.com

Kematian Alayist di Semesta Facebook



Banyak di antara kita yang berpendapat jika facebook adalah barang lama, usang dan gak layak pakai. Bahkan ada yang merasa jijik macam najis mugholadoh gitu. “Yaelaah.. hari gini masih fesbukan? Instagram dong, Path dong..”. Banyak nyinyiran yang ditujukan pada user facebook yang masih aktif, tapi tetap yang paling hits adalah nyinyiran “Facebook? Alay!”.

Sebagai aktivis perfesbukan tentu saya merasa bingung dan tratatapan. Lha wong yang posting di IG atau Path saja kadang muncul di Facebook juga kok. Bahkan ada pula yang masih repot-repot upload foto bekas upload-an IG di beranda facebook. Hingar bingar itu saya cuekin saja, kalau kontennya mengganggu ya saya stop following, kalau enggak yaudah saya biarin.

Klaim alay yang melekat di facebook ini tak ubahnya catatan buruk dalam sejarah facebook di Indonesia. Karya Mark Zuckerberg ini ngeksis di Indonesia tepat saat saya duduk di bangku SMA. Sekolah saya itu statusnya agak paradoks. Dibilang anak gaul kota enggak, karena ada sekolah yang lebih gaul. Dibilang kampungan juga enggak, karena ada yang lebih kampung. Meski demikian paham yang paling banyak dianut oleh kami saat itu jelas alayisme.

Alayisme adalah paham yang berambisi pada ego dengan mengedepankan emosi sesaat, kelabilan absolut dan kenorakan yang masif (Ilham, 2016). Awalnya para penganut paham ini disebut alayist. Namun karena terlalu susah diucapkan dan diketik, akhirnya cukup disebut sebagai alay.
Hingga saat ini populernya alayisme masih cukup bias, apakah facebook yang membawa paham ini atau kebetulan saja paham ini muncul bertepatan dengan masuknya facebook di tengah masyarakat kita. Paham alayisme ini banyak dianut oleh para remaja pada tahun 2007-2012. Hingga kemudian mengalami fase renaissance pada tahun-tahun berikutnya.

Dengan melihat kronologi sejarahnya, maka wajar saja jika ada yang bilang fesbukers saat ini adalah alayist yang tertinggal. Masa lalu yang kelam akan selalu menjadi pro dan kontra. Ada yang mendukung digunakannya facebook kembali dan ada pula yang menentang. Tidak beda jauh dengan mantan. Ada yang ingin balen ada juga yang ingin move on. Dyar!

Dalam rangka memahami lebih jauh tentang hal ini, saya berdiskusi dengan seorang blogger nomaden, Bella. Dia ini teman saya semasa SMP. Namun perbedaan SMA dan juga ruang kuliah memberi jarak pada pertemanan kami. Satu-satunya yang merekatkan friendzone kami ya facebook itu.

Dulu pernah di-block Bella (kampret) karena saya terindikasi alayisme kritis. Namun dengan semangat rennaisance ala Nicolaus Copernicus, dia membantu saya keluar dari kesesatan masa-masa itu. Hingga kemudian kami berdua sebagai fesbukers garda depan bersepakat pada sebuah teori.

“Bukan salah facebook kalau isi berita di timeline-mu buruk.”
Teori ini sangat jelas dan dapat dipercaya. Prakteknya, saya perlu sedikit repot membersihkan lingkaran pertemanan dari para alayist. Lalu menjalin pertemanan dengan orang-orang yang bermutu tinggi tapi harga tetap terjangkau seperti RA Jeans. Saya juga keluar dari grup gak penting, kemudian masuk di grup yang aktif dan sesuai dengan passion. Tak luput saya mengganti fanspage gaje yang dulu pernah saya ikuti dengan fanspage yang lebih edukatif, informatif dan talitha latief.

Selain ketakutan pada hantu-hantu alayist, orang-orang yang enggan memakai lagi akun facebook-nya juga terlalu skeptis dengan tingkat keapdetan. Kembali lagi dengan teori diatas, jika lingkaran pertemananmu adalah anak-anak apdet ya kamu gak bakal kudet. Tapi jika lingkaran pertemananmu memang orang-orang yang masih berdebat tentang penampakan dajjal dan hari akhir yasudah, aku mung isoh trenyuh.

Terlepas dari uraian yang saya tulis di atas, harus diakui jika setiap sosial media memiliki user-nya masing-masing. Saya yang cocok di facebook, mungkin tidak cocok di twitter. Yang cocok di Path, bisa juga tidak cocok di IG. Namun, jika kamu adalah blogger yang suka nulis pengalaman pribadi dan pemikiran abadi, saya rasa kamu bakal cocok main di Katanium. Setidaknya bisa dicek dulu, barangkali bisa menciptakan lingkaran pertemanan yang sehat jasmani dan rohani. Semoga apa yang saya paparkan memberi manfaat, kalau ternyata tidak ya mohon diampuni. Isohku ki yo mung nulis-nulis ora penting, sing penting iku gur status singgelmu.