Touched with Fire (2015): Aku Mencintai Kegilaanmu


Namaku Marco. Tapi bukan Marcopollo. Kau bisa memanggilku Markoplo atau Markonthil jika lidahmu baik-baik saja. Meski sebenarnya tidak pernah ada yang memanggilku dengan sebutan itu. Sebab, aku tidak punya siapa-siapa selain satu orangtua. Aku tidak memiliki teman. Aku tidak menjalin hubungan apa-apa dengan lingkungan sosial.

Aku sadari ada sesuatu yang lain dalam diriku. Aku memiliki cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Aku memiliki perasaan yang begitu mendalam dan sering berubah-ubah. Kadang aku bersemangat. Kadang aku putus asa. Kadang keduanya beradu menjadi satu. Mereka menyebutku pasien bipolar.

Aku suka sekali saat mengalami manik. Manik membuatku lebih menyala, lebih bersemangat, lebih antusias dan lebih positif. Serta yang terpenting dari semua itu, manik membuatku mengerti bagaimana rasanya hidup. Namun sayang, orang-orang itu menyebutku gila. Mereka menuduhku berhalusinasi. Padahal bukan aku yang tak masuk akal. Tapi mereka saja yang terlalu bodoh untuk memahami perbedaan.

Aku benci dengan sistem. Jadi kuputuskan untuk keluar dari tempatku bekerja. Aku bisa bertahan hidup dengan berburu susu gratis di Starbucks dan memakan saus di McDonals. Tapi ayahku melarang. Ia datang ke apartemen dan memberi ceramah yang teramat membosankan. Aku muak. Aku kabur. Lalu kupanjat gedung bertingkat. Di atap gedung itu aku duduk terdiam. Memandang bulan yang begitu terang. Aku percaya apa yang kulakukan ini akan membawaku pada sensasi manik. Aku ingin melihat langit malam seperti lukisan Vincent van Gogh. Sayangnya, belum sempat kusaksikan Starry Night dengan kedua mataku, dua orang berseragam hitam menemukanku. Aku digiring ke kantor polisi.

Ayahku yang mengatur semuanya. Kini aku dikirim ke rumah sakit jiwa. Berkali-kali aku katakan pada mbokdhe psikiater itu jika aku tidak gila. Aku hanya bergairah. Tapi ia tidak mau mendengarkan. Pancen asu tenan wong-wong iku. Aku ini tidak gila. Kenapa kok aku dianggap dan diperlakukan sepeti orang gila? Dengan jumlah masa yang begitu banyak sedangkan aku sendiri, jelas aku kalah suara. Tudingan mereka terhadapku dianggap sebuah fakta. Mau tidak mau aku harus terbiasa dengan sebutan gila yang melabeli namaku.

Aku dimasukkan ke dalam sebuah kelompok bipolar. Aku benar-benar dibuat bosan dengan kelompok ini. Sampai aku bertemu dengan seorang perempuan yang membuatku kesal, Carla. Carla begitu bodoh. Ia begitu pesimis dengan hidup ini. Aku benci orang sepertinya. Ia membuat hidupnya begitu sia-sia. Payah.

Suatu ketika, saat kami duduk berkelompok untuk menggambar, aku menjelaskan pada dua pria di hadapanku jika aku memiliki kemampuan untuk membuat syair dengan rima kompulsif. Manik yang kualami membuatku dapat menemukan dan menyusun kata-kata yang berima. Kemampuan ini sangat berguna bagiku untuk melakukan rap. Carla menantangku untuk melakukan freestyle rap. ia menyebut beberapa kata seperti “anti-kristus”, “tak tahu malu” dan “sendiri”. Kata-kata itu menjadi acuan untuk kujadikan bahan freestyle. Sepeti yang sudah sepantasnya terjadi. Aku menang. Aku membuatnya bungkam.

Lalu kulihat ia memegang sebuah buku. Aku rebut buku itu dari tangannya. Lalu kubaca syair yang tertulis di buku itu keras-keras. Carla meronta mencoba merebut bukunya. Tapi ia tak sanggup menjangkau dan aku masih melanjutkan membaca syair-syair itu. Tangan Carla terus mendesakku. Peganganku tak seimbang. Secara tak sengaja lipatan cover buku itu tersibak. Mataku terbelalak. Aku melihat siapa penulis buku itu.

Ternyata buku itu adalah kumpulan syair-syair yang ditulis Carla. Carla adalah seorang penyair. Sebagai pengidap bipolar, aku mengalami moodswing ekstrim seketika itu. Tiba-tiba mulutku tertutup rapat. Aku merasa bersalah telah mencoba mempermalukan karyanya.

Hari-hari setelah itu aku tak lagi mengganggunya. Kupikir dia adalah orang bodoh yang enggan memanfaatkan potensinya untuk sesuatu yang berharga. Ternyata ia lebih baik dariku. Kecanggungan sempat terjadi antara kami. Dan entah kenapa aku selalu memperhatikannya. Aku tertarik padanya.

Sesama bipolar, kami kerap terbangun bersama-sama tepat pukul tiga pagi. Tanpa ada perencanaan sebelumnya, kami berdua selalu menghabiskan sepertiga malam terakhir di ruang gambar. Kami beradu pendapat dan wawasan. Hingga akhirnya aku yakin pada rasa yang timbul tak terbantahkan. Aku jatuh cinta padanya. Dia pun sudah pasti begitu. 

Marco dan Carla saat membahas akhir film ini enaknya gimana. mhfestival.com
Kami berdua menjalin hubungan asmara yang biasa saja. Tidak ada pesta, kemegahan, maupun sorak-sorai dari teman-teman yang mendukung. Aku dan Carla hanya menyelami cinta sebagaimana yang kami tahu. Kami ingin berdua terus-menerus. Itu saja.

Entah kenapa orang-orang di sekitar kami lah yang repot. Orangtua Carla menentang hubungan kami. Mereka pikir aku terlalu gila. Baiklah aku sudah terbiasa dengan sebutan gila. Tapi apa mereka tidak bisa membuka mata dan melihat bagaimana Carla bahagia bersamaku. Mereka bodoh sekali. Sudah bodoh, belagak tahu pula. Aku dan Carla sudah saling mencinta. Tidak perlu pakai logika rendah yang mencoba menjelaskan betapa beresikonya hubungan ini. Sebab aku dan Carla mencinta sebagai sesama pengidap bipolar. Kami berdua memiliki perasaan yang begitu dalam. Sehingga kami tidak mengenal cinta dalam konsep-konsep rasionalitas.

Hubunganku dan Carla terasa menyenangkan. Aku yang lebih sering dan sangat ingin mengalami manik membuat hubungan kami terasa berapi-api, bertujuan dan menyenangkan. Sedangkan, Carla yang dominan dengan depresifnya seperti menghujani hari yang panas. Meneduhkan, menyegarkan dan membuatku lebih tenang. Aku heran dengan orangtua Carla yang terus-menerus mengambil keputusan sepihak untuk anaknya. Hal ini tentu membuat Carla semakin hanyut dalam episode depresinya. Jika aku tak salah ingat, dalam “Mourning and Melancholia” yang ditulis Sigmund Freud mengatakan bahwa potensi depresi diciptakan dari periode oral. Maksudnya, waktu anak mulai belajar berbicara. Aku meyakini pasti Carla kecil melihat ketidakharmonisan di keluarganya saat itu. Tanpa disadari, Carla menyerap ketakutan dan keputusasaan yang membuat psikisnya terganggu. Ah, ini hanya dugaanku saja. Aku sama sekali tidak peduli dengan Carla di masa lalu. Aku mencintai Carla saat ini. Itu saja.

Asu! Asu! Asu! Asu! Asu!

Orang-orang semakin gencar menjauhkanku dari Carla. Memaksaku meminum obat-obat tai kucing itu. Sudah kubilang berkali-kali jika aku tak akan meminum obat. Karena obat itu tidak membuatku menjadi lebih baik. Untuk kali ini saja, kenapa tak ada satu orang pun yang mendukung keteguhanku? Bahkan Carla.

Pada akhirnya Carla terlalu putus asa dengan hubungan yang selalu ditentang. Carla berhenti berontak. Ia meminum obat dengan rutin. Aku benci dengan Carla yang sekarang. Ia berubah menjadi manusia yang membosankan. Manusia yang terlalu banyak memikirkan tetek bengek sampai secara sukarela memadamkan perasaannya. Manusia yang lebih memikirkan penyakit lambung daripada memenuhi hasratnya untuk makan Indomie goreng setiap hari. Manusia yang terlalu banyak berpikir dan lupa untuk merasa.

Aku tak mengerti lagi. Carla sudah berubah menjadi orang yang tak kukenal. Ia lebih memilih menjadi sosok yang diharapkan ibunya sampai-sampai membunuh Carla yang asli. Pada titik ini aku menyerah. Aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya. Aku menghilang saja. Cinta sudah sirna. Kini aku sebatang kara. 


"Apakah mungkin aku dan Carla asli kembali bertemu dan bercumbu?"
                                                                                                             

Carla (Katie Holmes) saat menulis hutang-hutang pempek. touchedwithfire.com
Berangkat dari buku berjudul Touched with Fire: Manic-Depressive Illness and the Artistic Temperament (1992), ditulis oleh Kay Jamison, telah berhasil diolah dengan baik menjadi sebuah film yang memunculkan kisah asmara Marco dan Carla. Touched with Fire garapan Paul Dorio sukses mengemas psikologi, sastra dan seni dalam cerita romance yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Film ini didedikasikan kepada seniman, penulis dan musisi pengidap bipolar yang tercantum dalam bukunya Kay Jamison. 

Source banner: redcarpetcrash.com

A Dangerous Method (2011): Seucrit Tentang Psikoanalisa

Dunia psikologi selalu menjadi hal yang menarik bagi saya. Maka wajar jika film A Dangerous Method menjadi film yang membuat saya jatuh cinta kegirangan. Film besutan David Cronenberg ini berani mengangkat kisah pergumulan Carl G. Jung, Sabina Spielrein dan Sigmund Freud dalam layar lebar. Rilis tahun 2011, film yang membicarakan tentang psikoanalisa ini mendapat score 6,5/10 versi IMDB.

A Dangerous Method merupakan film biopic yang berangkat dari semesta Carl G. Jung (Michael Fassbender) yang penuh intrik tentang psikologi, cinta dan seks. Jung adalah seorang dokter jiwa yang menganut psikonalaisa dalam upayanya menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Salah satu pasien yang harus ia tangani adalah Sabrina Spielrein (Keira Knightley).

Sabrina memiliki gangguan kejiwaan yang serius. Sebelum Sigmud Freud (Viggo Mortensen) mencetuskan pengobatan kejiwaan dengan psikoanalisa, dunia kedokteran masih mempercayai jika gangguan psikis disebabkan oleh syaraf otak yang tidak semestinya. Untuk itu, biasanya mereka melakukan pengobatan dengan cara setrum otak. Berbeda dengan praktek brutal tersebut, psikoanalisa mengobati pasien dengan cara berbincang-bincang.

Melalui perbincangan tersebut, Jung berhasil mengulik masa lalu Sabrina. Diketahui sejak umur empat tahun, Sabrina mengalami tekanan fisik dan emosional yang disebabkan oleh ayah sadisnya. Dipukul, dicambuk, ditelanjangi dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan trauma berat bagi Sabrina. Pada akhirnya, Sabrina dewasa diketahui memiliki orientasi seks yang tergolong abnormal, yaitu masokis.

Salah satu teori psikoanalisa yang ditawarkan Freud adalah ranah kajian yang bermain-main dengan alam ketidaksadaran (unconscious). Freud percaya jika setiap manusia memiliki alam bawah sadar yang merupakan dorongan-dorongan yang timbul pada masa kanak-kanak, di mana oleh suatu hal terpaksa ditekan sehingga tidak muncul dalam kesadaran. Pada kasus Sabrina kita tahu jika masa kecilnya mengalami pergolakan fisik dan mental yang begitu kuat. Hal ini ternyata berdampak besar baginya di masa dewasa. Di mana ia memiliki rangsangan seksual dengan cara menyakiti diri sendiri.

Salah satu scene menarik adalah saat mantel yang Sabrina kenakan jatuh dari pundaknya. Jung mengambil mantel itu dari tanah lalu membersihkannya dengan cara memukul-mukul mantel dengan tongkat. Sabrina yang melihat itu langsung panik. Ia mendadak memutuskan untuk pulang. Benar saja, ternyata apa yang dilakukan Jung telah membuat Sabrina sange. Lantas Sabrina menuntasnya gairah seksnya itu dengan masturbasi. Saya yakin, Sabrina dulu waktu sekolah di SDN Bulu Kanthil 1 pasti lari terbirit-birit kalau ada teman sekelasnya yang belagak main perkusi pakai meja.

Masokis sendiri adalah dorongan untuk mempersakiti diri sendiri yang sifatnya patologis. Asal kata ini didapati dari nama seorang penyair roman Austria, L. Von Sacher Masoch. Di mana ia sering menciptakan tokoh yang suka menyakiti diri sendiri. Untung saja Kanjeng Dimas Taat Pribadi itu bukan penyair. Bisa-bisa ia bikin tokoh yang mendapat dorongan seks saat melihat peristiwa penggandaan uang. Tiap jam enam pagi pasti si tokoh pergi ke warung sebelah buat tukar uang seribu jadi dua keping lima ratusan. Sampai rumah langsung onani. Mantap!

Terlepas dari penggandaan uang yang aneh itu, masokis ini pada umunya dibagi menjadi dua kecenderungan. Ada masokis moril, yaitu dorongan yang dimuati unsur-unsur rasa bersalah dan dosa besar, terutama ditujukan pada kekasih atau relasi terdekatnya. Dan satunya lagi ada masokis erotis, yaitu dorongan untuk bersedia menderita kesakitan hebat demi cinta. Dalam A Dangerous Method, Sabrina lebih besar mengarah ke masokis erotis. Maka jangan kaget jika kita nantinya akan melihat si manis Keira Knightley dicambukin pantatnya.

Sabrina dan Jung yang semula hanya sebatas pasien dan dokter pada akhirnya baper juga. Di sini kita bisa menyempurnakan pepatah jawa, ‘witing tresna jalaran saka kulina, kulina mecuti’. Jung yang sudah berkeluarga ternyata bisa goyah. Ia mendapat pengaruh dari seorang psikoanalis bermasalah bernama Otto Gross (Vincent Cassel). Gross adalah orang yang tidak mempercayai mitos-mitos monogami. Baginya, dorongan seks tidak akan pernah selesai meskipun seseorang telah menikah. Maka ia memilih keluar dari jeratan monogami dan melepaskan diri terhadap seks bebas.
 
"Cambuk aku pakai kesempurnaan cintamu, Mas". (Source: wall.alphacoders)
Pemikiran itu berhasil membuka gerbang kejatuhcintaan Jung terhadap Sabrina. Berhubungan seks jelas mereka lakukan. Di samping itu, bromance yang terjadi antara Jung dan Freud juga tak kalah menarik. Di mana lagi kita bisa melihat dua tokoh besar nan penting itu berbincang seru. Saya yakin nama Freud tak asing lagi karena memang pemikiran-pemikirannya sering dipakai di banyak bidang kajian. Mulai dari psikologi itu sendiri hingga merembet ke sosiologi, antropologi, seni, sastra, dan lain sebagainya. Sedangkan Jung ini paling tidak kita sudah familiar dengan teori pembagian karakter manusia menjadi tiga golongan. Yaitu introvert, ekstrovert dan ambivert.

Sabrina Spielrein yang awalnya memiliki gangguan psikis ini pada akhirnya berhasil disembuhkan. Lebih dari itu, ia malah menjadi ahli psikoanalisa sebagaimana Freud dan Jung. Salah satu keunikan yang dimiliki Sabrina adalah sudut pandangnya tentang psikologi seks yang pernah ia alami sebagai ‘orang gila’. Dalam teorinya, Sabrina berpendapat jika dorongan seks sesungguhnya adalah ego. Di mana untuk mencapai sebuah kepuasan seks, kedua belah pihak harus bersama-sama memenangkan ego.

Sayangnya dalam rezim patriarki kita dihadapkan pada sebuah stigma di mana laki-laki lah yang memiliki kuasa atas seks. Kepuasaan laki-laki dianggap sebagai parameter keberhasilan seks. Seolah laki-laki memiliki pengetahuan dan cara melakukan seks yang lebih baik daripada perempuan. Hal ini tentu meresahkan kaum perempuan. Sebab dalam melakukan hubungan seks akhirnya terjadi ketimpangan. Laki-laki selalu mengambil peran dominan. Padahal perempuan juga boleh mengambil posisi itu. Laki-laki terus-terusan berupaya menuntaskan genjotannya hingga peju-peju meyeruak keluar. Sampai lupa, apakah pasangannya merasakan sakit atau justru belum orgas tapi si batang udah dicabut.

Lagi-lagi psikoanalisa berhasil membuka gerbang pengetahuan ini. Saya ingat bagaimana sejak kecil selalu diajarkan bahwa laki-laki itu selalu lebih, lebih dan lebih daripada perempuan. Baik yang diajarkan dan dibiasakan oleh keluarga atau lingkungan sekolah. Imbasnya, laki-laki maupun perempuan terjebak dalam hegemoni patriarki yang tak pernah selesai. 
 
Duo pakdhe psikoanalis idaman ibu-ibu arisan Kencana Bakti. (Source: wall.alphacoders)
A Dangerous Method boleh jadi memiliki judul yang terkesan ngeri. Namun, dalam eksekusinya justru kita akan disuguhkan perbincangan berbobot yang mengagumkan. Bisa jadi untuk yang lebih suka film aksi dan horor akan bosan menonton film ini. Sepanjang durasi kita hanya akan disuguhkan tiga orang itu ngobrol-ngobrol. Aktor dan aktris yang bermain dalam film ini memiliki peforma yang luar biasa. Bahkan Viggo Mortensen menurut saya berhasil memberi kesan egois, idealis, cerdas dan berkelas dalam sosok Sigmund Freud. Keira Knightley pun tampil bagus saat menjadi orang gila, bahkan rela memperlihatkan es krim imutnya kepada penonton. Demikian pula dengan Michael Fassbender yang turut sukses menarik perhatian penonton ke dalam semesta Carl G. Jung sebagai poin of view dalam film ini.

Menurut saya A Dangerous Method menjadi penting dan perlu ditonton. Seperti kamu yang tiba-tiba menjadi penting dan perlu dicintai. Meski jika dikejar apa alasan untuk mencintai itu sudah pasti tidak berhasil ditemukan. Sebab semesta bermain dengan cara-cara abnormal. Freud pun sudah tentu kesulitan untuk menafsirkan guratan-guratan angan kita yang tidak pernah selesai. Atau Sabrina dan Jung yang memilih menggerutu iri di balik asyiknya sengatan cambuk yang meronakan pantat ginuk-ginuk.

L H O H K O K J A D I G I N I , BOS ? ? ?

Y A M B O K B I A R T H O. P I S A N - P I S A N.

Tarakdungdes. Intinya A Dangerous Method ini film yang bagus. Sebaiknya di tonton dengan kecermatan yang tajam agar tidak bingung. Selamat menikmati filmnya. Kecuali, kamu. Khusus untukmu sebaiknya saya ceritakan saja via vn. NDIASMU. KEMENG JEMPOLKU, BOS. HAHAHAHAHA. Makasih sudah menyimak. Cheers.

Header pict: blogs.exeter.ac.uk

Mantan dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Berpisah dengan kekasih boleh jadi sesuatu yang teramat menyakitkan. Ditinggal nikah apalagi. Deretan mantan memang memberi banyak pengalaman-pengalaman cinta. Petualangan birahi jangan ditanya. Namun, dibalik semua itu saya percaya. Tak ada yang lebih menggemaskan dari mengingat-ingatnya.

Saya mulai berpacaran saat duduk di bangku SMA. Sementara teman-teman saya yang lain sudah memulainya saat SMP. Sebagai Romeo yang tertinggal ribuan tahun cahaya, saya belajar menjalin hubungan asmara secara otodidak. Tentu saya malu kalau harus tanya ke teman-teman yang sudah berpengalaman; saya harus bagaimana, saya harus ngapain, saya harus keluar di dalem apa di udel. Semua pertanyaan itu saya cari jawabannya sendiri, demi mewujudkan cita-cita saya sebagai Arjuna berdikari.

Jadian. Putus. Balikan. Putus. Jadian. Putus. Balikan. Putus.

Sudah. Siklus percintaan masa-masa remaja ya begitu-gitu saja. Berharap mendapat kisah asmara sastrawi macam Den Bagus Arjuna dan Dewi Sumbadra jelas perkara yang muskil. Lha wong jajan di kantin saja masih sering lupa bayar secara sadar, kok berharap cinta-cintaan yang romantis. Edan po?

Di samping itu, dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi Asean, muda-mudi bangsa ini sudah mulai berpikir dan bertindak secara kompetitif. Termasuk kompetisi cinta. Perebutan kekasih idaman tentu mewarnai hari-hari perjuangan mereka di sekolah. Mulai dari main labrak hingga nikung alus mereka lakukan demi terwujudnya hubungan asmara yang sublim. Melihat gejala positif ini pemerintahan kita semestinya segera mendirikan Badan Percintaan Kreatif untuk menampung gerakan-gerakan kompetitif dalam bercinta.

Tingginya persaingan cinta di lingkungan sekolah itulah, mau tak mau saya harus meninggalkan masa putih abu-abu dengan sederet mantan. Dalam perenungan saya, mantan adalah duta kenangan. Bagaimana tidak? Setiap kali bertemu dengan kawan-kawan lama, pasti selalu saja muncul pertanyaan ‘si Martina gimana kabarnya? Reny gimana? Masih sama dia atau ada enggak?’. Kalau sudah begitu, biasanya merembet pada hal paling absurd di dunia. Kepo instagram.

Mengobrak-abrik kenangan melalui akun instagram mantan adalah cara terbaik untuk bunuh diri. Sebab di sana biasanya saya menemukan penyesalan-penyesalan yang membahagiakan. Misalnya, Martina yang dulu waktu SMA tidak begitu banyak dikenal orang. Teman sekelas saja sering kelupaan kalau Martina adalah penduduk kelas itu. Parahnya, saya sendiri juga kerap lupa kalau dia pacar saya. Nah, setelah kepo instagram barulah diketahui sekarang ia menjadi sosok yang dipuja. Dunianya tak lagi melingkupi bangku kelas dan ranjang UKS. Kini, ribuan followers menemani hari-hari travelling dan kulinernya.

Kalau sudah begitu, biasanya saya manggut-manggut bahagia saja. Seingat saya, saya tidak pernah mencoba menghubungi mantan. Apalagi ngajak balikan. Meski hasrat untuk melakukan itu seringkali menghantui. Tapi waktu tetap lah waktu. Waktu tidak pernah berjalan mundur. Cerita-cerita lama yang dibawa waktu tidak akan pernah kembali. Biarkan saya tetap menjadi bajingan terindah di masa lalu mereka. 

 
Screenshoot film You Know Lah Gak Usah Disebutin Woeye
Kepo instagram mantan ternyata juga bisa membuat nafas tersenggal dan jantung berdegub kencang. Saya pun mengalami yang namanya kerasukan kenangan. Hal ini terjadi jika mantan yang paling saya harapkan kelajangannya ternyata sudah taken. Upload mesra kedua insan yang tengah dimabuk birahi mau tak mau harus saya saksikan. Apalagi kalau ada foto yang menampakkan si mantan gelendotan di bahu kekasihnya. Atau justru si pria kampret yang ndusel-ndusel di pelukan mantan saya. Sepertinya semakin saya scroll instagram mantan, jarak antara saya dan ajal semakin dekat.

Selain kenangan, mantan juga meninggalkan misteri dan urusan-urusan yang belum selesai. Seperti barang-barang yang terpinjam atau janji-janji yang masih mengambang. Kalau soal janji bisa dianggap lenyap ketika hubungan sudah kandas. Nah, yang jadi masalah itu barang-barang terpinjam. Kalau ingin mengembalikan barang tersebut otomatis saya harus menghubungi mantan lagi. Sebagai inlander asmara tentu saja nyali saya ciut. Alhasil, saya harus menyimpan barang-barang itu dengan baik. Meski saat membersihkan debu yang menempel di kulit mereka membuat gairah rindu saya tercabik-cabik. Apalagi kalau nemu foto, surat dan nota belanjaan. BABIK!

Dulu, saya dan Reny memiliki kebiasaan menyimpan kertas nota saat belanja atau makan di suatu tempat. Nota-nota itu sampai sekarang masih saya simpan. Beberapa ada yang masih tercetak jelas. Beberapa yang lain mulai menipis dan aus. Saking ausnya, tulisan yang pernah tercetak di selembar kertas kecil itu lenyap. Lalu masih saya simpan.

Bagi orang lain jelas kertas nota tak bernilai apapun. Bagi saya, kertas-kertas itu semacam metafora romantisme yang tak ternilai. Kertas nota tidak lagi dimaknai secara denotatif sebagai keterangan harga dari barang atau makanan yang sudah dibeli. Tapi secara konotatif, kertas nota merupakan cetakan peristiwa-peristiwa indah yang pernah terjadi di masa lalu saya.

Sebagai pria melankolis, tentu saya tidak bisa menghindari kerinduan saat membuka kembali artefak-artefak kenangan. Artefak kenangan adalah representasi syntagmatic dari konsep-konsep kontemporeris hati dimana perpaduan antara jengkel dan rindu menyatu disana. Pada akhirnya, mengobrak-abrik hal-hal yang belum selesai dengan mantan menjadi momentum ambivalen yang seasu-asunya. Jika ingin kembali kok ya masih ada rasa jengkel. Jika memutuskan untuk pergi kok ya rindunya susah hilang.

Andai saja ada jasa laundry yang bisa membersihkan masa lalu saya, sudah pasti saya akan memakai jasa itu. Sayangnya, masa lalu tak seperti kaos oblong atau sempak. Noda yang ada di masa lalu tak bisa serta merta dilenyapkan begitu saja. Ingatan manusia memang ada batasnya, celakanya yang sering diingat kok justru kenangan-kenangan mantan. Kok bukan pelajaran-pelajaran fisika beserta ilmu-ilmu kuantumnya.

Beberapa teman saya banyak yang mengakhiri masa lalunya dengan cara membuang semua barang-barang yang berkaitan dengan mantan. Jejak-jejak mantan dipercaya sebagai penghambat seseorang untuk move on. Sedangkan saya masih percaya jika hal itu hanya mitos belaka. Artefak kenangan tidak menghambat saya untuk move on.

Artefak kenangan adalah cara saya untuk mengingat betapa bajingannya saya dulu. Membuka kembali artefak kenangan memang bisa menggoyangkan niat hati yang ingin move on. Tapi justru itu tantangannya bukan? Hal-hal yang tak selesai dengan mantan tidak akan pernah selesai. Tidak sedikit pun terselesaikan meski kita membuang atau menghapus semua artefak kenangan.

Saya bukan orang yang suka dengan acara-acara simbolis. Membuang artefak kenangan tentu bagi saya hanya ceremonial belaka. Jika saya melakukannya berarti dulu saya memadu kasih hanya dalam peristiwa-peristiwa simbolis saja. Berarti dulu saya memberi kado bukan karena sayang, tapi karena itu simbol ‘wajib’ pacaran. Berarti dulu saya nraktir makan bukan karena sayang, tapi karena pria ‘wajib’ melakukan itu pada pacarnya. Apakah demikian?

Mantan menjadi mantan bukan karena hubungan kandas semata. Mantan menjadi mantan karena ia membuat saya jengkel dan rindu dalam satu waktu. Segathel apapun mantan, mereka tetap lah makhluk ciptaan Tuhan yang pernah mampir untuk membahagiakan saya. Sebagai insan berbudi pekerti luhur meski hati babak belur, saya harus mensyukuri setiap orang yang pernah datang pada saya. Karena sedikit atau banyak, mantan tetap memberi pelajaran hidup yang berarti.

Kalau terpaku pada mantan, apakah hati bisa terbuka untuk orang baru yang mau menggantikan posisi mereka?

Bisa.

Mantan ya sudah mantan. Hal-hal yang tak selesai ya biarkan saja tak selesai. Untuk membuka hati yang baru tak perlu membersihkan hati yang lama. Cukup dengan menutupnya rapat-rapat. Lalu buka ruang hati yang lain. Hati yang masih bersih. Hati yang belum tersentuh oleh mantan.

Hati ini seperti rumah yang terdiri dari kamar-kamar. Kamar satu, dua, tiga, empat dan lima sudah pernah disinggahi mantan-mantan. Jika ingin memasukkan orang baru cukup tutup rapat kelima kamar itu. Lalu buka kamar keenam. Persilakan ia masuk. Nyalakan musik yang syahdu dengan volume 90%. Rebahkan tubuhnya. Bergumul lah.

Sudah ah. Sendu amat.

Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Kita sama-sama tahu lah jika judul tulisan ini disadur dari kumpulan essai Goenawan Mohamad, ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’. Bukan bermaksud mengganti posisi Tuhan dengan mantan. Hanya saja dalam kasus cinta kronis, saya temukan ada orang yang sulit sekali melupakan mantan. Dari bangun tidur sampai kembali tidur tetap teringat mantan. Padahal mantannya ya sudah pergi. Yang selalu ada buat kita itu ya Tuhan. Semoga ini bisa jadi bahan perenungan buat kita. Kembali lah ke jalan yang benar wahai saudaraku. Mari kita bertaubat. Cheers.

Mafia Survival Game (2016): Ketakutan Membunuhmu

Sejak saya memainkan game werewolf di Telegram, terbesit dalam pikiran saya bagaimana jika game ini kemudian diangkat menjadi sebuah film. Dan ternyata Sarik Andreasyan telah melakukannya. Sarik adalah director untuk film Mafiya: Igra na Vyzhivanie (Russian) atau lebih populer disebut Mafia Survival Game. Film yang rilis awal tahun 2016 ini hanya mendapat rate 4,9/10 di IMDB. Syukurlah ada yang bersedia menerjemahkan bahasa Rusia ini ke dalam bahasa Indonesia. Terima kasih kepada translator yang menamai dirinya “Fucxxxer”. Sungguh, penerjemahanmu se-hardcore namamu. Mantap jiwa!

Moskow tahun 2072 menjadi latar dalam film ini. Di tahun tersebut masyarakat Moskow merasa jemu dengan tayangan televisi yang terlalu dibuat-buat. Akhirnya, muncul sebuah tayangan reality show yang menyajikan kematian sesungguhnya. Istilah ‘reality show’ kembali pada pemaknaan kata (reality = kenyataan) yang sebenar-benarnya. Di mana acara itu berani menampilkan pertunjukan yang senyata-nyatanya, tanpa ada omong kosong skenario. Jadi, kalau mati ya mati beneran.

Pertunjukan yang disajikan adalah sebuah game yang mirip dengan permainan werewolf. Jadi ada 12 peserta yang di kumpulkan dalam sebuah ruangan. Dua di antara kedua belas peserta tersebut mendapat peran pembunuh yang disebut Mafia. Sepuluh sisanya adalah warga biasa. Pembagian peran memang sesimpel itu. Tidak ada peran aneh-aneh macam harlot, cupid, kultis, drunker dan lain-lain. Melihat film ini, untuk sesaat saya jadi teringat dengan film 12 Angry Man. Kurang lebih ya seperti itu. Sepanjang film isinya adu bacot. Hanya saja, film MSG lebih unggul secara visual.

Ada beberapa hal yang menurut saya menarik. Salah satunya yaitu kematian. Dalam game ini ada dua cara untuk mati, yaitu dibunuh Mafia atau mendapat vote terbanyak dari warga untuk dieksekusi. Peserta yang jadi korban untuk dibunuh/dieksekusi akan memasuki sebuah dunia Virtual Reality (VR). VR tersebut mewujudkan semesta dari hal-hal yang paling ditakuti oleh peserta. Seperti si Peter yang memiliki phobia terhadap air. Dalam dunia VR ia ditempatkan di tengah laut lengkap dengan hiu-hiu yang mengitari perahu bocornya. Melalui VR tersebut, ia mati di makan hiu. Dan di dunia nyata, ia benar-benar mati. 
 
Moga beliau sempat baca syahadat. (screenshoot)
Hal ini menarik, sebab acara televisi ‘Mafia’ tersebut telah memenuhi kepuasaan penonton, yaitu kenikmatan menyaksikan kematian. Jika mengutip dukun psikoanalisa, Sigmund Freud, kita mengenal yang namanya ‘scopophilia’. Scopophilia ini melibatkan orang lain sebagai objek, dan menjadikan mereka sebagai subjek untuk mengontrol pandangan. Di era 2072, masyarakat Moskow ingin melihat saat-saat orang menjemput ajalnya. Tapi karena mereka tidak bisa sembarangan membunuh orang di dunia nyata, salah satu pelariannya ya dari tontonan televisi. Sayangnya, banyak film atau tanyangan televisi yang menyajikan kematian itu dalam kepura-puraan skenario. Oleh sebab itulah acara televisi ‘Mafia’ ini hadir.

Cara mati dengan melibatkan VR pun tergolong unik dan asyik. Kapan lagi kita bisa melihat orang yang mati dalam ketakutannya sendiri. Ambil contoh saja, si Marie yang memiliki ketakutan terhadap petir. Dalam dunia VR ia berlarian di hutan, sendiri, malam hari, diguyur hujan dan dikejar petir. Ekspresi ketakutan, kebingungan, keputusasaan terlihat jelas dari wajahnya. Hal inilah yang memberi kepuasan bagi para penonton. Fantasi penonton atau ‘voyeuristic fantasy’ muncul dari ruang keingintahuan yang biasanya diawali dengan kata pengandaian seperti ‘what if’. Hal ini juga sering terjadi pada diri saya sendiri.

Saya memiliki ketakutan ‘kecil’ terhadap hamparan dunia luas, seperti gurun atau laut. Saat saya ngecamp di pantai Kesirat bersama teman-teman SMA, saya tak henti-hentinya menahan imajinasi yang justru membuat saya ketakutan sendiri. Pantai Kesirat itu berupa tebing-tebing curam. Kami bangun tenda di tebing. Saat malam tiba dan mau tak mau saya harus melihat luasnya lautan, muncul imaji saya bagaimana jika (what if) dari dalam lautan muncul makhluk asing bertubuh besar seperti ultramen. Bagaimana jika dari balik tebing muncul kepala seukuran gedung MPR. Bagaimana jika dari langit berjatuhan manusia-manusia raksasa bermata satu yang ingin mandi di laut itu. Saat orang-orang mungkin takut dengan penampakan kain putih yang melayang-layang, saya biasa saja. Saya takut dengan sesuatu yang lebih besar dari saya. 
 
Kurang lebih VR ini bisa mewakili ketakutan saya. Terjebak di gurun dengan monster njir. (screenshoot)
Selain hal di atas, ada lagi yang menurut saya menarik di film MSG. Yaitu tentang keabsolutan sistem. Permainan ‘Mafia’ diatur oleh pihak netral yang berperan sebagai Moderator. Moderator ini bisa menentukan apakah Mafia dibiarkan beraksi atau tidak. Ia juga bisa menentukan apakah vote dari warga dihitung atau tidak. Bisa dibilang kalau moderator ini adalah replika dari Tuhan. Nah, dari hal ini muncul dua tipe manusia, taat pada sistem dan penentang sistem.

Salah seorang yang mencoba untuk menentang sistem adalah Butcher. Ia dipilih oleh Mafia. Mau tidak mau ia harus masuk ke dunia VR. Dunia VR-nya menempatkan Butcher di sebuah gelanggang pertarungan dengan dua algojo bersenjata. Layaknya gladiator, Butcher memberi perlawanan serius terhadap dua algojo itu dengan benda-benda yang ada disekitarnya seperti pasir, batu dan botol minuman. Di sini Butcher mencoba melawan ketakutannya, ia menentang sistem. Memang benar ia berhasil mengalahkan kedua algojo itu. Sayangnya, saat ia berbangga diri, kakinya tersandung batu dan kepalanya jatuh tepat di ujung besi bangunan. Butcher mati.

Tokoh favorit saya adalah Constantine. Ia orang yang jenius. Di dunia nyata ia bekerja sebagai seorang konsultan untuk situasi-situasi krisis. Kemampuan yang sangat berguna dalam permainan ini. Sayangnya, ia memiliki parameter sendiri bagaimana memenangkan permainan ini. 

Cah kemaki Constantine. Irunge ra tertib! (screenshoot)
Di tengah permainan ia mengaku sudah tahu siapa yang berperan sebagai Mafia. Tapi, ia enggan segera mengeksekusi Mafia, sebab jika jumlah pemenang terlalu banyak maka uang hadiah juga akan terbagi terlalu banyak. Si kampret ini mendeklarasikan bahwa dirinya ingin menang sendiri.

Sayangnya, kesombongan itu justru membuat sebagian pemain lain KZL. Constantine mendapat tiga vote saat pemain tersisa delapan. Butuh satu lagi vote dan ia harus mati. Dalam situasi itu tinggal dua orang yang belum melakukan voting, Ivan dan Constantine sendiri. Ivan memilih mengikuti kata hatinya dengan memberi suara untuk Eli. E.. Lha bajinguk! Constantine malah mengambil vote untuk dirinya sendiri. Jan congkak e Constantine iki wuasu tenan og. Sepanjang sejarah permainan ‘Mafia’, ia menjadi orang pertama yang memvote diri sendiri.

Akhirnya, ia memasuki dunia VR ketakutannya, yaitu ‘mati tua’. Ia berlari mengitari tangga yang terpampang banyak cermin. Wajahnya mengeriput dengan cepat. Rambutnya memutih tanpa harus bleaching di salon Sasha. Ia mendekatkan wajahnya ke cermin, lalu terkekeh. Saat sekarat, ia membuat sebuah pengakuan. Ternyata Constantine telah memperdaya sistem. Saat sesi psychological evaluation (dilakukan dua minggu sebelum permainan dimulai), ia berhasil melewati pendeteksi kebohongan dengan memberi pernyataan palsu. Ia tidak takut mati tua. Tapi justru ia ingin mati tua. Begitulah, si jenius waskita ini berhasil mati seperti yang ia inginkan. Piye? Po ra nguanyelke tenan cah siji iki.

Eits! Tidak cukup sampai di situ kecerdikan Constantine. Ternyata ia sudah mengatur jalannya permainan agar hasil akhir dari game ini adil bagi semua peserta yang tersisa. Constantine berhasil membuat sistem jadi kelabakan. Bukan hanya memilih diri sendiri dan menipu pendeteksi kejujuran, si kampret ini benar-benar merusak hasil akhir. Mau tahu bagaimana kelanjutannya? Ketik REG spasi MILF kirim ke 0101 sekarang juga –by presenter kuis Lativi dini hari. Btw, kuis birahi dini hari ini juga harus dibuat filmnya ya. Lativi Reborn!
 
Mbah-mbah Moderator. (source: cinecitta.de)
Sisanya silakan tonton sendiri saja ya, biar lebih mancep! Intinya film MSG ini mengajarkan kepada kita agar terus meningkatkan IPK dan rajin sembahyang. Jangan terlalu fokus menghindari ketakutan-ketakutan, tapi fokus lah pada apa yang ingin kita raih. Jika kita takut mati dalam lembah nista, maka kita akan mati dalam lembah nista. Namun jika kita bertekad mati mulia, maka syahid lah yang menyambut kita. Setiap manusia pasti mati. Kitalah yang menentukan mau suulqotimah atau khusnulqotimah.

Jika kita terjebak pada sistem yang membuat kita lamban, maka berontak sajalah. Jangan takut menjadi berbeda. Jangan membuat waktu menjadi sia-sia. Jangan menimbun penyesalan-penyesalan. Fokus pada keberhasilan, bukan kegagalan. Raih suksesmu sekarang juga! Yes we can! Yes! Yes! Yes! Selamat! Selamat datang di review motivasi. Agar hidup lebih bermakna dan berdikari. Sampai bertemu di lain waktu lagi. Cheers.

Header pict source: cinecitta.de

Tutorial Menyatakan Perasaan Sulit


Tak dapat dipungkiri jika ada masa yang kita hanya pasrah memendam perasaan kita terhadap seseorang. Entah itu perasaan suka, benci, kecewa, takut, sedih dan sejenisnya. Ada beberapa orang yang bisa segera menyatakan itu tanpa basa-basi. Namun, tak jarang ada yang mengalami kesulitan.

Memendam perasaan itu bagai menyimpan baju kotor. Rasanya ingin segera dicuci, tapi malas sekali. Baju kotor jika terus ditumpuk hingga menggunung, pastilah muncul bau apek. Kalau sudah begini biasanya baru mau berangkat nyuci. Tapi kan capek banget nyuci timbunan baju. Sampai tahap ini biasanya muncul penyesalan; ‘kenapa enggak dari dulu aja’.
Kan ada laundrian, bro?

Serah deh seraah.. Namanya juga perumpamaan doang.
Jadi, sesulit apapun perasaan yang mengganjal di hati, memang sebaiknya diutarakan. Terlebih jika itu menyangkut dengan orang lain. Semisal ketika kamu punya teman dekat yang belakangan ini baru bertingkah menyebalkan. Yasudah bilang aja terus terang. Daripada ngedumel sendiri, ya kan?

Atau ketika kekasihmu tiba-tiba berubah. Sudah tidak seperti dulu lagi. Klise, sih. Tapi masih ada aja yang seperti ini. Ya sebaiknya dikatakan saja apa yang kamu rasakan. Kalau sedih ya bilang sedih. Kalau kecewa yang bilang kecewa. Kalau takut ya bilang takut.

Saya pernah berada pada posisi ini. Dan sejauh ini saya lebih banyak memendam perasaan. Lama-lama kesakitan sendiri, lho. Saya banyak menyesali waktu yang saya siakan untuk merahasiakan perasaan dari siapapun. Bahkan untuk hal sepele, seperti ketika saya pesan mie ayam di warung tenda. Pas pesenan datang, bukan mie ayam yang saya terima tapi spaghetti bolognise. Biasanya saya enggan untuk protes. Saya memilih diam. Padahal seharusnya saya bisa lekas menggamit baju bapak penjual mie ayam. Lalu menatap matanya dengan sendu. Sedikit menghela nafas dan mengatakan “ada yang mau aku omongin sama kamu”.
 
“Ada apa ya, mas?”

“Beberapa saat lalu aku memesan mie ayam.”

“....”
 
“Tapi sekarang kamu udah berubah. Kamu udah gak kayak dulu lagi. Kamu sajikan spaghetti bolognise padaku. Kamu pikir aku ini siapa, ha? Kenapa kamu seolah tidak tahu kesukaanku?”

“E.. Itu..”

“Itu, itu apa? Kamu sudah bosen sama aku?”

“Biar saya ganti pesenannya aja , mas.”

“Nggak perlu”

Tangan bapak itu perlahan menyentuh piring spaghetti bolognise. Dan ia menatap bayang-bayang saus dengan mata kosong. Angin semilir berhembus menggoyang rambut ikalnya. Kesejukan dan keteduhan terpancar dari peluh keringat yang membasahi wajah tirusnya. Dengan pelan, ia menguncap kata penuh kekhusyukan, “maafin aku, mas”.

Kuterdiam sejenak. Mengambil nafas dalam-dalam. Meresapi setiap oksigen yang masuk ke paru-paru seolah sedang menghirup kesabaran.

“Kamu tak perlu minta maaf. Aku yang salah. Seharusnya aku tak pesan mie ayam”. Kami berdua terdiam.

“Seharusnya aku tahu kalau tidak ada menu mie ayam di warungmu”, kataku penuh sesal.

Untung sudah dikonfirmasi ada kesalahan tulis sebelum cetak, ya. Source: jancok.com
Ya kurang lebih begitu. Katakan saja apa sedang mengganjal di hati. Saya yakin –sebagai orang yang sudah pengalaman memendam perasaan- pasti ada rasa takut untuk menyatakan perasaan. Takut jika nanti orang yang kita jujuri itu menjadi sedih, kecewa bahkan murka.

Tapi jangan khawatir. Kali ini saya akan memberi tutorial bagaimana menyatakan perasaan-perasaan sulit. Jika kalian pernah membaca “Men Are From Mars, Women Are From Venus”, mungkin akan kalian temui cara-cara ini ada miripnya. Yaiyalah.. Emang rujukan saya dari situ. Tapi hanya beberapa bagian saja, sih. Sisanya saya cuplik dari intelegensi saya yang gini-gini aja. Oke, mulai!
 
Sebelumnya, ada beberapa media yang bisa kita gunakan untuk menyatakan perasaan sulit.

1. Lisan

Memang cara paling basic untuk menyatakan perasaan ya dengan ngomong langsung. Sayangnya, ada beberapa orang yang gemetaran saking tidak kuatnya menahan gejolak birahi –ini khusus kalau kamu mau ngajak ML aja. Merangkai kata-kata dalam kepala lalu melepaskannya lewat lisan itu cukup sulit. Saran saya, jika kamu bukan tipe orang yang lancar ngomongin hal-hal sensitif, ada baiknya kamu menggubahnya dalam lagu.

Demi memberi kesan totalitas dalam menyampaikan perasaan sulit ini, sebaiknya lagu yang kamu nyanyikan untuknya adalah lagu yang kamu buat sendiri. Tulis uneg-uneg yang ingin kamu sampaikan padanya dalam sebuah kertas, lalu senandungkan. Jelek atau sumbang urusan belakang. Yang penting jujur dulu. Tapi, jika kamu tidak mahir membuat lagu, ya solusi sederhana cari lagu yang related dengan perasaanmu -tapi sebaiknya sih dihindari, BASI sob.

2. Tulisan

Jika secara lisan kadar degdegannya terlalu tinggi maka media lain yang bisa digunakan adalah tulisan. Melalui tulisan kita bisa menyusun teks puisi atau surat. Menuangkan perasaan dalam bait puisi memang kadar sentuhannya lebih kuat. Namun jika yang kita kasih puisi itu tipe orang yang sulit memahami teks-teks konotatif, ya malah jadi bingung dia.

Jadi, saran saya sebaiknya sampaikan uneg-unegmu melalui surat. Surat bisa jadi media paling tepat untuk menyatakan perasaan. Di dalam surat kita bisa menulis secara runtut, gamblang dan detail. Soal touching atau enggak urusan belakang. Yang penting jujur dulu aja.

3. Visual

Tak dapat dipungkiri jika pada era saat ini ada banyak orang yang lebih bisa menyatakan pemikirannya melalui media gambar. Sampai-sampai perlu dibuka jurusan Desain Komunikasi Visual untuk menjembatani kecenderungan itu, bukan? Nah, kalau yang sudah-sudah biasanya menyatakan gagasan dalam pikiran ke bentuk visual. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengkomunikasikan perasaan ke bentuk visual juga.

Jika kamu adalah tipe orang yang kepekaan visualnya tajam, saya yakin hal ini tidak terlalu sulit. Kita bisa menggunakan gambaran tangan sendiri, mau sketsa, doodle, lukis atau grafitti juga bisa. Kalau lebih canggih dengan media digital juga bisa. Bahkan pakai fotografi pun juga bisa.

Intinya, nyatakan perasaanmu melalui media apapun yang kamu kuasai. Jika kamu tidak memiliki keahlian-keahlian tadi ya minimal bisa back to basic. Ngobrol langsung. Namun ‘langsung ngomong’ aja terlalu berbahaya. Misal kamu ingin mengatakan pada kekasihmu kalau dia terlalu egois. Nah, kalau kamu asal bilang “kamu sekarang egois banget sih, bangsat?!”, saya yakin dia bakal terpicu emosi dan justru menyerangmu. Dari hal-hal sederhana itu justru berpotensi merusak hubungan.

Kita hamil, Mas. Source: quora.com
Maka dari itu, perlu penanganan khusus bagaimana menyatakan perasaan sulit itu. Ada rumusnya. Ada poin-poin dan step yang harus diperhaikan. Rumusnya adalah ASTS+C. Gimana? Mudah dihapal, kan? Berikut penjelasannya:

1. Amarah

Tahap pertama sampaikan rasa marahmu. Marah itu bisa ditujukan pada orang yang kamu maksud atau bisa juga ditujukan untuk diri sendiri. Misal, kamu ingin bilang sayang ke mas-mas tukang parkir Alfamart. Kamu mulai dengan menuangkan amarah. Contoh: “Aku marah pada diriku sendiri. Aku marah saat aku pasrah nurut orangtua untuk belanja di Indomart. Padahal hatiku sudah terpatri di Alfamart. Aku ingin selalu ketemu kamu, mas”.

Jika mulai dari tahap ini sebaiknya kamu sampaikan melalui surat, deh. Karena kalau ngomong langsung nanti sebelum inti yang ingin kamu katakan, dia sudah motong pembicaraan duluan. Makin repot nanti. Hati-hati yaa..

2. Sedih

Setelah meluapkan kemarahanmu, selanjutnya ungkapkan kesedihan. Katakan hal-hal yang membuatmu sedih. Misal kamu sedih karena tidak bisa parkir di Alfamart. Kamu sedih tidak bisa bertemu mas ganteng tukang parkir. Kamu sedih hanya bisa memandang mas ganteng tukang parkir sekilas saja. Menyatakan kesedihanmu berfungsi sebagai penetral amarahmu di awal tadi. Memang sih bisa dibilang ini memancing rasa iba. Tapi bukan itu intinya. Pada tahap ini kamu akan menyentuh hatinya. Saya yakin seberingas apapun kelakuan di ranjang, tetap saja tertanam rasa kasih di hati manusia. Nah, sentuh itu.

3. Takut

Hal yang perlu diungkapkan berikutnya adalah rasa takut. Misal takut kehilangan, takut perubahan, takut ketidakpastian, takut kegagalan dan lain-lain. Tahap ini akan semakin menusuk-nusuk perasaan orang yang kamu tuju. Tujuan utamanya adalah untuk memancing rasa kepedulian.

4. Sesal

Setelah hatinya tersentuh dan timbul kepedulian terhadapmu, tahap berikutnya adalah menyesali diri sendiri. Penyesalan ini semacam pengakuan dosa. Kesannya agar kamu tidak terlihat egois. Tidak terlalu banyak menuntut. Sesalilah masa lalumu. Sesalilah kebodohan yang pernah kamu perbuat. Dari iba, lalu peduli, dan tahap ini untuk menumbuhkan rasa sayang.

5. Cinta

Saya yakin orang yang mau menerapkan rumus ini sebenarnya punya rasa cinta terhadap orang yang dituju. Cinta yang saya maksud tak sesempit pengertian cinta sama dengan menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah ikatan kekeluargaan yang sah. Tapi cinta yang kamu tebar bisa ke siapa saja, bisa saudara, orang tua, sahabat, teman bahkan abang-abang barbershop juga boleh.

Tahap ini bukan tahap untuk mengatakan ‘aku cinta kamu’. Tahap ini adalah tahap akhir untuk menutup penyampaian perasaanmu dengan manis. Untuk mempermudah, coba kamu tuliskan perasaan cinta dimulai dari kata ‘terima kasih’. Misal –setelah kamu ungkapkan rasa sesal (tahap 4) kamu bilang “terima kasih, kau sudah bersabar untukku. Terima kasih, kau mau sejauh ini bersamaku. Terima kasih, kau selalu berhasil mengingatkanku bahwa selalu ada bahagia (kamu) disetiap sedihku”.

Tahap cinta di sini sebenarnya membongkar perasaan-perasaan bahagiamu tentang dia. Ungkapkan dengan kalimat terima kasih. Lambungkan hatinya. Buat dia merasa diakui, dianggap, diperhatikan. Dengan begitu meski inti yang ingin kamu sampaikan adalah perasaan-perasaan negatif, ujungnya jadi manis. Dia akan menerimamu secara postif. Pertengkaran pun terhindari.

Kuncinya, jangan berhenti melakukan tahap-tahap itu sebelum sampai pada tahap cinta. Mau buat lagu, puisi atau surat jangan sampai berhenti sebelum sampai puncaknya. Nah, kalau misal pakai media visual gimana? Ya coba tidak membuat hanya satu. Buat berangkai, sampai membentuk cerita juga bisa. Ah susah kayaknya ya. Menurutku sih, sebaiknya bikin surat saja.

Fungsi utama dari rumus-rumus ini adalah untuk memetakan perasaanmu yang sebenar-benarnya. Selain memberi penjelasan kepada orang yang kamu tuju, rumus ini juga bisa menjadi cara terapi diri untuk memahami apa yang sebenarnya kamu rasakan. Jangan kepancing emosi terus langsung nyeblak. Pikirkan dulu dengan tenang. Apalagi jika kasusnya rumit dan berat.

Nah, di atas sudah saya tulis media yang bisa digunakan untuk menyampaikan perasaan sulit dan juga rumus untuk menyampaikannya. Jadi, langsung saja kita menuju inti gimana cara menyatakan perasaan sulit. Berikut tutorialnya:

1 Niat 

2 Persiapan fisik dan hati

3 Eksekusi (usaha maksimal)

4 Pasrah

Baiklah, semoga tutorial ini bisa memberi manfaat buat teman-teman semua. Terima kasih sudah menyimak dari awal hingga akhir. Sudah dulu ya. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya. Cheers.

Header source: tokopedia.com

A Tribute to Han



Saya selalu tartawa bahagia setiap kali melihat ada orang yang bisa melakukan sesuatu di luar ekspektasi. Ada percampuran antara kekaguman, keterkejutan dan rasa penasaran yang lebih mendalam ketika menyaksikan apa yang mereka lakukan. Ketertarikan saya pada orang-orang itu yang membuat saya sering membuka YouTube untuk sekedar mencari pertunjukan-pertunjukan unexpectation gitu. Mulai dari pertunjukan jalanan hingga pertunjukan dalam ajang pencarian bakat.

Nah, kali ini saya akan membicarakan lagi tentang grup WWF yang kreativitas membernya kurang ajar level biadab.

((APA HUBUNGANNYA SAMA PARAGRAF PERTAMA, CUOK??))

Jadi, ada banyak hal absurd yang terjadi di grup WWF. Mulai dari memakai nama-nama aneh, main werewolf merangkap main sambung kata, bikin dongeng dari foto-foto aib dan masih banyak lagi. Namun, kali ini saya akan membicarakan salah satu member yang memberi kontribusi karya yang asyik. Siapa dia?

Namanya @HanaAnyaa. Wanita mistis asal Madiun ini mencoba peruntungan mencari ilmu dan jodoh di Solo. Dalam grup WWF, dia termasuk member yang aktif. Bagaimana tidak? Koneksi internet buat satu kosan ia makan sendiri. Ia baru berhenti memakai koneksi internet cuma pas tidur dan nyuci motor. Tapi ia tidak pernah nyuci motor.

Dulu ketika saya mengajaknya untuk bergabung dengan grup WWF, saya sempat ragu. Sebab grup WWF berpotensi bakal mencemari kepolosannya. Sialnya, kami kesulitan main werewolf karena membernya masih sedikit. Jadi saya memantapkan niat untuk memasukkan Hana ke dalam grup WWF dengan alasan yang sangat logis dan bisa dierima: MEMBURU SERIGALA LEBIH PENTING DARIPADA MORALITAS. Jadi kalau nanti Hana terjerembab dalam obrolan sampah ya bodo amat. Startchaos jauh lebih penting. Bukan begitu, Dilwale?

Seperti yang sudah saya tulis di awal tentang ekspektasi –nah kan ada hubungannya. Hana yang saya kira bakal jadi silent reader ternyata malah sering memicu kerusuhan. Salah satu kerusuhan yang ia buat saat WWF sedang lesu-lesunya adalah dengan membuat stiker dari muka para membernya. Saat itu saya dan Hana sedang nongkrong bareng di ChachaMilkTea, bukannya ngerjain TA e malah dia iseng bikin stiker.

Don’t live down to expectations. Go out there and do something remakable (Wendy Wasserstaein)
Bisa dibilang, perkara stiker ini yang memulai kami mengenal sosok antar member. Sebab, sebelumnya tak semua member memakai foto pribadi sebagai profil picture. Jadi harus menerka sendiri orangnya seperti apa. Stiker ini berhasil menyita perhatian dan memecah gelak tawa dari hari ke hari. Sampai si Uda juga ikut memeriahkan dengan membuat stiker Bena. Dari situlah saya mengenal sosok Bena yang aduhai. Senyumnya bisa membuat permen yuppie saya berubah jadi bisepnya Son Goku. KERAS!

Beberapa hari setelah itu, WWF mengalami trend tawa yang lain. Kali ini yang jadi pemicu keriuhan adalah voice note. Fitur VN di Telegram ini ternyata bisa dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak WWF. Awalnya gini, kala itu para member menggunakan nama absurd yang diolah dari nama Jaimbum. Ada yang memakai nama Jaimborn, Jaimburn, Jaimbut dan lain-lain. Selain nama, kami juga menggunakan foto profil Jaimbum. Jadi, puossyyaang abes main werewolf-nya. Dan kalau ada player lain yang tidak merubah nama, secara otomatis player itu dimatikan dahulu. Alasannya sederhana, ‘bunuh yang bukan klan Jaimbum. Ingat, keluarga lah yang terpenting’. Seketika, gelak tawa pun meledak.

Saking tidak kuatnya ngetik karena ngakak parah, kami pun ngirim VN suara tawa. Suara tawa ini justru bikin tambah lucu. Pasalnya, ternyata Bena memiliki frekuensi suara yang tak beda jauh dari Zeus. Ngakaknya itu menggelegar dan liar. Kalau teman-teman ingat jurus auman singa di Kung Fu Hustle, nah Bena ini lebih futuristik. Sama-sama dahsyat, sih. Cuma kalau jurus auman singa itu bikin gelombang suara yang bisa memecah udara, nah kalau ngakaknya Bena itu sudah bisa memecah ketuban. Jadi kalau kamu belum dikaruniai momongan, minta bena VN ngakak aja.

Kalau saya sih takutnya Bena iseng-iseng telfon. Pas diangkat, dia langsung ngakak. Lah, ketuban saya pecah. Repot kan? Kalau sudah begitu, kita tinggal nunggu akun YouTube-nya berubah jadi prank channel. Dan menyaksikan bagaimana program KB dibantai habis-habisan sama Bena.

VN tawa dari Bena ini menjadi sebuah legenda. Ia terus-terusan mengirim VN ngakak. Melihat fenomena alam yang cuma terjadi setiap 78 tahun sekali itu, Hana berhasil mendokumentasikannya dengan apik. Berbekal VN dari Bena beserta kawan-kawan biadabnya, Hana mengolah VN tersebut menjadi lantunan nada-nada indah. Hana membuat semacam speech composing seperti idolanya, Eka Gustiwana. Hanya saja lebih sederhana dan chaosable.

 

Waktu yang dibutuhkan untuk membuat remix macam ini hanya beberapa jam saja. Sekali lagi, saat itu saya dan Hana berniat mengerjakan tugas kami masing-masing. Bukannya ngerjain TA, dia malah iseng bikin remixan. Orang kreatif emang gini kan ya, spontanitasnya nggak tertib!

Remixan itu baru mulai dikerjakan saat sore hari. Dan malamnya sudah siap launch. Begitu remixan itu launch di grup WWF, hancur sudah indera tawa kami. Tidak ada lagi game. Tidak ada startchaos. Tidak ada obrolan mesum. Hanya ngakak-ngakak-ngakak dan sumpah serapah yang bisa kami lontarkan malam itu.

Hana ini memang memiliki talenta di bidang musik. Masa pubernya ia habiskan bersama pacar kesayangannya, piano. Eh? Piano apa organ, ya? Apa keyboard? Apapun lah pokoknya yang dipencet selain jerawat. Dulu, ia pernah menjadi personel band aliran hitam bernama The Next-B Band. Jika kita mengasumsikan “next-b” itu adalah “C”. Maka kita akan lihat band ini menjadi “C Band”. Mengingat pelafalan orang-orang Madiunis yang kultur hedonis pecelnya tinggi, kita akan dengar band mereka dipanggil “ceban”. Ceban dalam dunia ekonomi underground merupakan sandi untuk menyebut nominal ‘10.000’. Nah, sampai sini kita tahu berapa bayaran yang mereka peroleh saat menggubah sebuah content placement lagu.

Setelah The Next-B Band gulung tikar karena idealisme-nya terkikis zaman, Hana kembali menggauli dirinya (membuat dirinya gaul) dengan bergabung ke dalam sebuah band bernama PPD. Singkatan dari nama band ini merancukan dunia politik dan perfilman. Sebab, bisa saja PPD itu merujuk pada Partai Pemecah Demokrasi atau judul film animasi religi, Para Pencari Dory.

Usut punya usut, PPD itu ternyata singkatan dari Paper Doll. Sebuah anomali yang terjadi saat membedakan nama itu mengacu pada grup band atau kelompok kerajinan tangan. Paper Doll ini band yang seluruh personilnya perempuan. Saya sendiri tidak pernah menyaksikan Hana perform. Sebab, dalam band itu Hana mendapat peran sebagai keyboardist. Padahal suara Hana itu lebih merdu, lho. Tantowi Yahya aja kalah.

Saya pernah mendengar Hana bernyanyi. Beberapa kali saya dengar ia membawakan lagu-lagu Indo, lagu barat hingga lagu Jepang. Meski demikian, sejauh apapun Hana mencoba mengeksplorasi pita suaranya dengan menyanyikan bermacam-macam lagu, tetap saja lidah polesan pecel hanya membuatnya fasih menyanyikan lagu dangdut. Lagu dangdut sudah jadi semacam signature voice yang dimiliki Hana. Jadi kalau dia nyoba-nyoba menyanyikan lagu barat atau jepang, kita cukup bilang “udah..back to basic, aja”.

Begitulah gambaran tentang sosok salah seorang member WWF yang bernama Hana. Saya harus menuliskan ini karena banyak teman-teman WWF yang penasaran dengan dia. Sayangnya, hasrat penasaran itu tidak buru terpuaskan karena Hana tidak memiliki blog. Ah, sebenarnya punya sih, hanya saja blognya tenggelam di deep web -anak page one gak mungkin nemu. Cuma saya dan Justin yang tahu. Selebihnya, para serigala WWF menguliti rasa penasarannya dengan scrolling instagram Hana. Sampai ada yang kepleset jari jadi ke-tap dua kali. Hmmm

Segitu saja kisah inspiratif yang bisa saya ceritakan. Semoga setelah membaca ulasan ini intelegensi teman-teman langsung meningkat tajam. Dengan begitu, teman-teman bisa menjalani psikotes penuh rasa percaya diri. Atau interview kerja yang kelak berjalan lancar. Lalu diterima kerja. Menikah. Mendengarkan VN Bena. Ketuban pecah. Punya anak. Hidup bahagia deh.

Sudah ah, mau nulis dulu.

Menantang Jogja Tanpa Rencana

Pada tanggal 8 Oktober kemarin saya melakukan perjalanan asal-asalan ke Jogja. Namanya juga lagi dirundung gelisah, jadi harus refreshing dikit biar tidak resah. Sebenarnya saya hanya perlu melihat tempat-tempat baru dan orang-orang baru itu sudah cukup membuat saya berpikir lebih jernih.

Sabtu pagi, di stasiun Purwosari saya bertemu dengan teman sebangku saya semasa SMP. Namanya Jefri. Dari dirinya lah saya mewarisi cangkem buosok kalau urusan bercanda dan nge-bully orang. Sungguh sulit diterima akal, sekarang dia berprofesi sebagai wasit untuk cabang olahraga tenis. Padahal passion-nya di bidang bacot-membacot. Kalau dia mau mengeksplor bakatnya ke YouTube, saya yakin VNGNC bakal tutup akun.

Selain Jefri, saya juga bertemu dengan seorang penulis bernama Ngadiyo. Dulu saya pernah jadi MC dalam acara bedah bukunya. Saya kaget sekali ketika diminta untuk jadi MC. Jangankan punya pengalaman ngisi acara, wong izin ke kamar mandi pas sholat jumat saja saya tidak berani.

Kala itu saya protes terhadap keputusan panitia yang tidak mengindahkan hak-hak saya sebagai mahasiswa cupu. Usut punya usut, ternyata dari sekian calon MC yang dimonitoring oleh panitia, saya lah yang paling memenuhi kualifikasi wajah. Panitia bilang, wajah saya ini related dengan judul buku yang akan dibedah. Karena penasaran, saya ngintip catatan rapat panitia. Terungkap sudah. Judul buku yang akan dibedah adalah “How to Handle Masturbation”. Kampret emang. Tapi page one


Muka saya sepertinya lebih mirip duo setan itu. Source:dionwirawan.files
Perjalanan dari Solo ke Jogja, saya tempuh dengan naik kereta. Tidak banyak yang saya lakukan di dalam kereta. Hanya mendengarkan musik dan berpikir. Saya sangat suka melamun. Banyak hal yang bisa saya pikirkan. Tentang hidup, asmara, karir, pendidikan, apapun itu saya visualkan dengan apik dalam khayalan saya. Sampai-sampai saya memelintirkan beberapa lirik lagu. “I have a bad blog! Kau benci blogku yang apa adanya. Dan sukai mereka yang belagak dapet kapal pesiar dari job reviewnyaaa”.

Ah, tak terasa pelamunan itu sukses mematikan waktu saya. Saya tiba di stasiun Lempuyangan sekitar pukul 12 siang. Di sini saya sudah menghubungi teman saya yang ada di Jogja, namanya Regina. Kami berdua sebenarnya tidak sering berkomunikasi. Hanya sesekali say hello saja di media sosial atau pas papasan di kampus. Saat itu entah kenapa saya ingin bertemu dia. Akhirnya, kami memutuskan untuk berbincang-bincang hangat di Coffee Legend.

Di tengah percakapan kami yang menyenangkan, hujan mengguyur deras. Kami berdua terjebak di Coffee Legend selama berjam-jam. Karena sudah mulai bosan, kami memutuskan untuk nekat menerjang terpaan hujan dan menerima kepasrahan jika nanti masuk angin.

Tanpa berbekal rencana yang jelas, saya ngikut saja insting Regina. Akhirnya, kami berkunjung ke Bentara Budaya. Di sana kami berkeliling menyaksikan beberapa karya seni lukis. Kalau diingat-ingat saya memang sudah lama sekali tak menonton pameran seni. Pada waktu itu di Bentara Budaya yang dipamerkan adalah karya-karya lukisan abstrak. Cocok sekali dengan pikiran, perasaan dan hidup saya yang serba tidak jelas ini.

Selepas memutari galeri dan sedikit berbincang-bincang di kursi yang tersedia di tengah ruangan, kami merasa perlu beranjak dari tempat ini. Di halaman Bentara Budaya saat itu ada berlusin-lusin pria berkostum serba hitam. Untung saja bukan karena ada layatan. Tapi sedang ada acara komunitas musik. Nama acaranya “Cassette Store Day 2016”, yaitu ajang berkumpulnya para penikmat musik yang mengoleksi rilisan fisik. Di sana saya melihat sensasi ‘lawas’ yang terkemas dengan apik. Saya dan Regina memang suka musik tapi bukan dari kalangan musisi. Karena latar pendidikan kami sama-sama dari seni rupa dan desain. Jadi kami berdua justru membicarakan visual pada sampul album. 
Salah satu hal yang membuat saya bertanya-tanya sejak dulu adalah kenapa acara-acara ‘eksklusif’ di Jogja macam ini pasti banyak bulenya. Malah dulu ketika saya nonton Pappermoon Puppet di IFI Jogja, yang datang hampir bule semua. Apa anak-anak muda di Jogja fokus belaja, ya? Eh, btw, waktu di IFI itu juga hujan. Memang deh, Jogja, hujan dan bule sulit dipisahkan kenangannya.

Saat saya berjalan melihat-lihat kaset sambil menghindari genangan air, tiba-tiba Regina memanggil saya. Ia menunjukkan pada saya sebuah banner besar yang terpasang di pinggir jalan. Di banner itu tertera sebuah acara yang saat ini sedang berlangsung. “Ke sana, yuk”, ajak Regina. Memang tidak salah bertemu Regina ini. Spontanitasnya tinggi.

Alhasil, jadilah kami berdua pergi ke UGM. Di sana saat itu sedang ada acara ‘Kampung Buku Jogja #2’. Sebagai penikmat buku-buku, jelas kami berdua nekat menerjang ribuan air yang jatuh deras dari langit Jogja. Dan makin afdhol perjalanan ini karena kami sempat nyasar. Wong acaranya itu di foodpark, kami malah pergi ke gelanggang. Tanya orang sana-sini tidak ada yang benar. Sedih. Dan akhirnya kami diselematkan oleh google map dan intuisi. 


Ini lokasi acaranya. Selebihnya bayangkan saja suasana romantis malam, dengan lampu remang-remang yang banyak dan hujan rintik. Source:wardhanahendra
Buku-buku yang dijual di KBJ ini kuampret bener dah. Bagus-bagus! Mulai dari filsafat, sastra, sejarah, seni dan aaaaghh buku-buku langka! Buku-buku indie! Fak! Fak! Fak! Tahu gini saya harusnya sedia uang saku yang lebih. Tidak kepikiran ada acara begini, sih. Hasilnya, saya cuma ngiler sambil elus-elus buku yang pingin dimiliki seutuhnya. Hih! Gemes! Cium juga nih lama-lama.

Saya dan Regina sama-sama tidak beli buku apa-apa. Mau gimana lagi, perut lebih perlu diisi daripada nanti kami pingsan. Saat hendak melangkah ke area makan, Regina kembali memanggil saya, “Ham, ke atas dulu, yuk!”. Dari lantai dua memang terdengar riuh perbincangan, sepertinya ada acara diskusi atau sekadar ngobrol santai. Kami berdua ke lantai dua. Namun terhenti di mulut tangga saja. Tempatnya penuh. Saya sempat ngintip dari sela-sela selangkangan orang yang berdiri di depan saya. Hm, ya, sepertinya ada diskusi. Karena tidak ada celah untuk masuk, kami mengurungkan niat dan kembali pada tujuan semula. Makan! 


Atae.. Kenapa melewatkan acara ini, sih!? Source:aktualita.co
Di foodpark ini kami memesan dua teh hangat, Regina makan nasi dengan ati goreng dan saya cuma ngemil pempek udang. Selagi Regina menyantap makanannya, saya mengaburkan pandangan ke sekitar dan mencoba menikmati momen itu. Saya menyadari kalau hari itu cuma jalan-jalan sederhana, tapi menyenangkan. Dari pameran seni, acaranya anak-anak musik, dan perbukuan. Kalau saja ditutup dengan acara pemutaran film, habis sudah pertahanan saya. Mau bagaimana lagi? Sudah di Jogja, datang ke tempat-tempat menyenangkan, hujan pula. Jika bukan karena faktor X, sudah jatuh cinta nih pasti.

Selepas makan malam, saya dan Regina harus segera ke stasiun lagi. Saya bermaksud naik kereta Prameks yang berangkat pukul 20.15. Sesampainya di stasiun, saya kehabisan tiket. Oke, fayn! Itu adalah kereta Prameks terakhir. Saya dan Regina lantas mendiskusikan hal ini. Ada beberapa opsi seperti; saya naik kereta lain yang berangkat lebih malam dan lebih mahal, saya tidur di stasiun dan nunggu Prameks besok subuh, saya naik bus tapi motor saya inap di stasiun Purwosari, saya naik taksi (edan!), saya inap di kosan Regina tapi di area parkir, atau saya inap di losmen sarkem aja.

Keputusan terakhir jatuh pada ‘naik kereta yang agak mahalan’. Ya, jadi saya pulang dari Jogja pukul 21.00, naik kereta Jaka Tingkir. Dan..untuk kesekiankalinya spontanitas Regina membuat saya kaget. “Aku juga mau pulang ke Solo sekarang aja”.

What?

Benar saja, malam itu Regina memutuskan untuk pulang ke Solo. Rencana awal dia sih ingin balik Solo pada minggu pagi.

“Kamu gak ingin bawa barang-barang dari kos dulu, Reg?”

“Enggak, bawa apa?”

“Ya..gak tahu juga. Pakaian mungkin.”


“Enggak”, dia buka tasnya lalu ngecek ini itu, “Udah. Gini aja”.

“Serius?”

“Heh. Jangan bikin ragu dong.”


Satu pelajaran hidup yang saya pelajari dari Regina. JANGAN MERAGUKAN SEBUAH KEPUTUSAN. Memang saya ini orangnya sering ragu-ragu, terutama pada diri sendiri. Saya ingin mengambil keputusan yang tepat. Tapi ternyata semakin sering saya meragu justru bukan kematangan keputusan yang saya ambil, tapi kesia-siaan waktu. Thank you, Reg.

Jadi, malam itu saya dan Regina naik kereta dari stasiun Lempuyangan (Jogja) ke stasiun Purwosari (Solo) pukul sembilan. Sampai di Solo sekitar pukul sepuluh. Dan saya sudah pasti mengantar Regina ke rumahnya dengan aman. Saya baru sampai rumah sekitar pukul sebelas. Tepat dua belas jam perjalanan saya hari itu berakhir. Sebelum tidur saya ngecek grup WWF, ah lagi left. Ngecek wassap, ah masih pada rebutan job review. Ngecek twitter, ah masih ngomongin tips blog paling mainstream. Ngecek playlist AIMP, NDX A.K.A – Kesandung Masa Lalu. Oke, play! Saatnya lucid dream.

Terbang.